Ahlus Sunnah Memahami Nama dan Sifat Allah Tanpa Mentahrif
20th January 2016

Ahlus Sunnah Memahami Nama dan Sifat Allah Tanpa Mentahrif

Pertanyaan: Apa maksud firman Allah Ta'ala:

لَـقَدۡ رَضِىَ اللّٰهُ عَنِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ يُبَايِعُوۡنَكَ تَحۡتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ فَاَنۡزَلَ السَّكِيۡنَةَ عَلَيۡهِمۡ وَاَثَابَهُمۡ فَتۡحًا قَرِيۡبًا ۙ‏

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka." (Terjemahan QS. Al Fath: 18)

Jawab: Ada dua kalimat pada ayat tersebut, yaitu:

Pertama, firman Allah Ta'ala:

¨اِنَّ الَّذِيۡنَ يُبَايِعُوۡنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوۡنَ اللّٰهَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah." (Terjemahn QS. Al fath: 10)

Kaum salaf telah berpegang dengan zhahir dan hakikatnya, yakni para sahabat radhiyallahu 'anhum membai'at diri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan pada ayat:

لَـقَدۡ رَضِىَ اللّٰهُ عَنِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ يُبَايِعُوۡنَكَ تَحۡتَ الشَّجَرَةِ

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon." (Terjemahan QS. Al Fath: 18)

Tidak mungkin ada seseorang yang memahami ayat, "Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah," maksudnya adalah membai'at Allah langsung, dan tidak mungkin ada yang mengatakan bahwa seperti itulah zhahir lafaznya karena bertentangan dengan awal ayat dan ayat ke-18 di atas serta kenyataan, di samping hal itu mustahil bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Orang yang membai'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dijadikan sebagai orang yang membai'at Allah, karena para sahabat yang membai'at Beliau untuk berjihad di jalan Allah, dan membai'at utusan-Nya untuk berjihad di jalan-Nya sama saja membai'at Allah yang mengutusnya sebagaimana orang yang taat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sama saja taat kepada Allah Ta'ala. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنۡ يُّطِعِ الرَّسُوۡلَ فَقَدۡ اَطَاعَ اللّٰهَ

"Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (Terjemahan QS. An Nisaa': 80)

Di samping itu, dihubungkannya bai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan bai'at kepada Allah Ta'ala merupakan penghormatan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, penguatan dari-Nya sekaligus menguatkan bai'at (janji setia) tersebut dan meninggikannya serta memuliakan orang-orang yang melakukan bai'at.

Kedua, penggalan ayat:

يَدُ اللّٰهِ فَوۡقَ اَيۡدِيۡهِمۡ‌

..."Tangan Allah di atas tangan mereka."... (Terjemahn QS. Al fath: 10)

Ayat ini juga ditafsirkan sesuai zhahir dan hakikatnya, karena Tangan Allah Ta'ala di atas tangan orang-orang yang melakukan bai'at. Tangan-Nya merupakan bagian dari sifat-Nya, dan Allah Ta'ala sendiri zat-Nya di atas 'Arsy, sehingga memang betul Tangan Allah memang di atas tangan mereka. Ini adalah zhahir; lafaz dan hakikatnya, ia merupakan penguatan terhadap bai'at kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena mereka dianggap membai'at Allah Azza wa Jalla, dan hal itu tidak mesti Tangan Allah Azza wa Jalla secara langsung membai'at tangan mereka.

Perhatikanlah kata-kata "Langit di atas kita" padahal ada jarak yang jauh antara kita dengan langit. Oleh karena itu, Tangan Allah Azza wa Jalla di atas tangan orang-orang yang membai'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan ketinggian Allah Ta'ala di atas makhluk-Nya. Di samping itu, tidak mungkin ada yang memahami Tangan Allah tersebut adalah tangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia juga bukan zhahir dari lafaz itu, karena Allah mengidhafatkan Tangan kepada Diri-Nya dan menyifatinya bahwa Ia berada di atas tangan mereka. Sedangkan tangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berbai'at dengan para sahabat tidak berada di atas mereka, bahkan tangannya berjabat langsung dengan mereka.

**********

Pertanyaan: Apa maksud firman Allah Ta'ala dalam hadits Qudsi berikut:

« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى . قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى » .

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, "Wahai anak Adam! Aku sakit, namun kamu tidak menjengukku." Ia (anak Adam) berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjengukmu, sedangkan Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Kalau sekiranya kamu mau menjenguk, tentu kamu akan mendapati-Ku di dekatnya. Wahai anak Adam! aku meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberi, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian di sisi-Ku. Wahai anak Adam! aku meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku minum." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Hamba-Ku si fulan telah meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberinya, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian itu di sisi-Ku." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Jawab: Kaum salaf tetap memegang hadits ini dan tidak mengalihkan dari zhahirnya dengan melakukan tahrif (pena'wilan) bermacam-macam sesuai hawa nafsu mereka, bahkan mereka menafsirkannya sesuai yang ditafsirkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam hadits di atas. Oleh karena itu, firman-Nya "Aku sakit", "Aku meminta makan" dan "Aku meminta minum" sudah dijelaskan maksudnya oleh Allah Ta'ala sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi di atas.

Dengan demikian, maksud sakit di sana adalah salah seorang hamba-Nya yang sakit, maksud meminta makan di sana adalah salah seorang hamba-Nya yang meminta makan, dan maksud meminta minum di sana adalah salah seorang hamba-Nya yang meminta minum. Hal ini tidaklah mengalihkan dari zhahirnya, karena seperti itulah tafsirnya, di mana Allah Ta'ala sendiri yang langsung menafsirkan. Dihubungkan kepada Allah Ta'ala pada awalnya adalah untuk mentarghib (mendorong) dan menganjurkan, hal ini sama seperti firman Allah Ta'ala,

مَنۡ ذَا الَّذِىۡ يُقۡرِضُ اللّٰهَ قَرۡضًا حَسَنًا

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah)?." (Terj. QS. Al Baqarah: 245)

Hadits di atas merupakan dalil yang kuat membantah Ahlut ta'wil yang mengalihkan nas-nas sifat dari zhahirnya tanpa dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah, padahal jika sekiranya maksudnya adalah bukan zhahirnya tentu Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan rasul-Nya sudah menerangkannya, dan jika zhahirnya mustahil bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala tentu Allah dan Rasul-Nya sudah menerangkannya seperti dalam hadits di atas.

Oleh karena itu, kaedah yang sudah dikenal di kalangan Ahlus Sunnah wa Jama'ah adalah membiarkan ayat-ayat sifat dan hadits-haditsnya sesuai zhahirnya tanpa mentahrif (menakwil), menta'thil (meniadakan), mentakyif (menanyakan bagaimana atau menyebutkan hakikatnya adalah begini dan begitu) dan mentamtsil (menyerupakan dengan sifat makhluk).

Wal hamdulillahi rabbil 'aalamin.


Marwan bin Musa

Maraji': Al Qawaa'idul Mutsla fi Asmaa'illahi wa shifaatihil 'Ula karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin (tahqiq Hani Al Haaj, cet. Maktabah Al 'Ilm, Cairo, th.1425 H).