Keliru Pada Ijtihad Mencari Yang Hak Dimaafkan
20th January 2016

Keliru Pada Ijtihad Mencari Yang Hak Dimaafkan

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu' Fatawa Juz 12, hal. 180, "Adapun dalam masalah mengkafirkan, yang benar adalah bahwa barang siapa yang berijtihad dari kalangan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bermaksud mencari yang hak, ternyata keliru, maka tidak dikafirkan. Bahkan dimaafkan kesalahannya.

Sedangkan orang yang telah jelas baginya apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, namun malah menyelisihinya setelah jelas petunjuk itu dan tidak mengikuti jalannya orang-orang mukmin, maka dia kafir. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsunya, kurang peduli dalam mencari yang hak dan berbicara tanpa ilmu, maka dia pelaku maksiat dan berdosa, dan bisa menjadi fasik. Namun mungkin saja ia memiliki kebaikan yang dapat mengalahkan keburukannya."

Syaikhul Islam juga berkata, "Saya juga menerangkan bahwa apa yang dinukil dari kaum salaf dan para ulamanya berupa menyebut kafir secara mutlak kepada orang yang mengatakan ini dan itu, memang benar. Akan tetapi, wajib dibedakan antara menyebut secara mutlak dan menyebut secara ta'yin (orang tertentu), dst."

Beliau juga berkata, "Takfir (mengkafirkan) termasuk ancaman. Perkataan (yang mengkafirkan) itu meskipun sebuah sikap mendustakan apa yang disabdakan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi bisa saja orang tersebut karena masih baru masuk Islam atau tinggal di pelosok kampung yang jauh.

Orang seperti ini tidaklah dikafirkan karena mengingkari sesuatu yang diingkarinya sampai tegak hujjah kepadanya. Terkadang seseorang belum mendengar nash-nash yang ada tersebut atau memang sudah mendengar tetapi belum tsabit (tetap dan pasti) menurutnya atau bertentangan dengan yang lain sehingga ia harus mentakwilnya meskipun salah.

Saya selalu menyebutkan hadits yang ada dalam shahihain tentang orang yang berkata, "Apabila aku meninggal, maka bakarlah jasadku sampai menjadi abu, lalu taburkanlah ke lautan. Demi Allah, jika Allah berkuasa terhadapku, tentu Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah dirasakan oleh seorang pun di alam semesta." Maka orang-orang melakukannya." Kemudian Allah berfirman kepadanya (setelah dihimpun kembali jasadnya), "Apa yang membuatmu melakukan hal itu?" ia menjawab, "Karena takut kepada-Mu," maka Allah mengampuninya.

Orang ini masih ragu-ragu tentang kemahakuasaan Allah dan kuasanya Dia untuk menghimpun kembali jasadnya setelah bertebaran. Hal ini jelas kufur berdasarkan kesepakatan kaum muslim, akan tetapi orang itu tidak tahu hal itu. Ia seorang mukmin yang takut jika Allah menyiksanya, sehingga dia diampuni. Orang-orang yang melakukan takwil dari kalangan mujtahid yang berusaha mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentu lebih layak memperoleh ampunan daripada orang seperti ini."

Dari sini kita ketahui, bahwa antara perkataan dengan orangnya atau antara perbuatan dengan pelakunya ada perbedaan. Tidak setiap ucapan atau perbuatan yang merupakan kefasikan atau kekufuran lalu orang yang mengucapkannya atau melakukannya dihukumi demikian (kafir atau fasik). Hal ini, bisa disebabkan karena hilangnya salah satu syarat takfir atau tafsiq (pengecapan sebagai fasik) atau adanya penghalang syar'i yang menghalanginya untuk dikafirkan.


Marwan bin Musa

Maraji': Al Qawaa'idul Mutsla fi Asmaa'illahi wa shifaatihil 'Ula karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin (tahqiq Hani Al Haaj, cet. Maktabah Al 'Ilm, Cairo, th.1425 H).