Belajar Islam

Bolehkah Mencaci-Maki Orang Mati?

Bolehkah Mencaci-Maki Orang Mati?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ “Mencaci-maki seorang muslim adalah sebuah kefasikan, sedangkan memeranginya adalah sebuah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih) لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا “Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa

Bergaul Dengan Akhlak Mulia Kepada Sesama Manusia

Bergaul Dengan Akhlak Mulia Kepada Sesama Manusia

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ “Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raaf: 199) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ

Menghormati yang tua di kalangan mereka dan menyayangi yang muda.

Menghormati yang tua di kalangan mereka dan menyayangi yang muda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5445)

Menolong saudaranya dan tidak membiarkannya terlantar

Menolong saudaranya dan tidak membiarkannya terlantar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ ولايُسْلِمُهُ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh menghinanya, membiarkannya, dan menyerahkannya kepada musuh. Cukuplah,

Menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu saudaranya

Menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu saudaranya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ “Orang muslim adalah orang yang dapat membuat kaum muslim lainnya aman dari gangguan lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. “

Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya

Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya

Al Barra’ bin Azib berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, memenuhi sumpah, membela orang yang teraniaya, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.” (HR. Bukhari) Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendatangi orang

Larangan Mendiamkan Saudara Lebih Dari Tiga Hari

Larangan Mendiamkan Saudara Lebih Dari Tiga Hari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ “Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari; ketika keduanya bertemu, yang satu berpaling, demikian pula yang lain. Orang yang

Menginginkan kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana dirinya menginginkan memperoleh  kebaikan

Menginginkan kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana dirinya menginginkan memperoleh kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana dirinya menginginkan memperoleh kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak dengki kepada saudaranya, tidak berburuk sangka, tidak membencinya, dan tidak memata-matainya.

Tidak dengki kepada saudaranya, tidak berburuk sangka, tidak membencinya, dan tidak memata-matainya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari

Mendoakannya ketika saudaranya bersin dan mengucapkan Alhamdulillah.

Mendoakannya ketika saudaranya bersin dan mengucapkan Alhamdulillah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ “Jika salah seorang di antara kamu bersin, maka hendaknya ia mengucapkan “Alhamdulillah,” dan hendaknya saudara atau kawannya mengucapkan, “Yarhamukallah”