Larangan Memperjualbelikan Buah Sebelum Matang
09th January 2018

Larangan Memperjualbelikan Buah Sebelum Matang

Syariat Islam diturunkan diantara tujuannya untuk menjaga harta manusia. Diantara contohnya yaitu larangan untuk memperjualbelikan buah di pohon yang belum matang. Larangan ini karena ada kemungkinan buah tersebut rusak dan gagal panen.

Berikut dalilnya:
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَّهُ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلاَحُهَا وَعَنِ النَّخْلِ حَتَّى يَزْهُوَ، قِيلَ وَمَا يَزْهُو؟ قَالَ: يَحْمَارُّ أَوْ يَصْفَارُّ.

Bahwa beliau melarang menjual buah sebelum matang, dan kurma sehingga ia berwarna.” Lalu ada yang bertanya, “Apa maksudnya berwarna?” Beliau menjawab, “(Hingga) memerah atau menguning.” [Shahih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6928)], Shahiih al-Bukhari (IV/397, no. 2197)]

Juga diriwayatkan darinya, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual buah sehingga matang. Lalu ditanyakan kepada beliau, ‘Apa maksudnya matang?’ Beliau menjawab, ‘Hingga memerah.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتَ إِذَا مَنَعَ اللهُ الثَّمَرَةَ بِمَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَالَ أَخِيْهِ.

Apa pendapatmu apabila Allah menahan buah tersebut (tidak bisa dipanen), maka dengan cara apa salah seorang dari kamu mengambil harta saudaranya.’” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IV/398, no. 2198) dan lafazh ini milik beliau, Shahiih Muslim (III/1190, no. 1555), Sunan an-Nasa-i (VII/264)]