Belajar Islam

Larangan Memperjualbelikan Hasil Pertanian Yg Masih ditaman Sebelum Bijinya Mengeras (Tua)

Larangan Memperjualbelikan Hasil Pertanian Yg Masih ditaman Sebelum Bijinya Mengeras (Tua)

Dari Ibnu ‘Umar, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يَزْهُوَ وَعَنِ السُّنْبُلِ حَتَّى يَبْيَضَّ وَيَأْمَنَ الْعَاهَةَ نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُشْتَرِيَ. “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual kurma hingga ma-tang, dan (melarang menjual) biji-bijian hingga mengeras (matang) [1] , serta aman

Larangan Memperjualbelikan Buah Sebelum Matang

Larangan Memperjualbelikan Buah Sebelum Matang

Syariat Islam diturunkan diantara tujuannya untuk menjaga harta manusia. Diantara contohnya yaitu larangan untuk memperjualbelikan buah di pohon yang belum matang. Larangan ini karena ada kemungkinan buah tersebut rusak dan gagal panen. Berikut dalilnya: Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: أَنَّهُ نَهَى

Larangan Memperjualbelikan Lukisan Makhluk Bernyawa

Larangan Memperjualbelikan Lukisan Makhluk Bernyawa

Dari Said bin Abul Hasan, ia berkata, “Aku sedang berada di tempat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, tiba-tiba datang seseorang kepadanya seraya bertanya, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas, aku adalah seseorang yang penghasilanku dari kerajinan tanganku, dan sesungguhnya aku membuat gambar-gambar ini.’ Maka Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Aku tidak akan menceritakan kepadamu kecuali

Larangan Memperjualbelikan Anjing

Larangan Memperjualbelikan Anjing

Dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ. “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hasil penjualan anjing, mahrul baghyi (uang hasil berzina/melacur) dan hulwanul kaahin (upah praktek perdukunan).” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari

Larangan Memperjualbelikan Bangkai, Babi, dan Patung

Larangan Memperjualbelikan Bangkai, Babi, dan Patung

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika berada di Makkah pada ‘amul fath (tahun pembukaan kota Makkah): إِنَّ اللهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَاْلأَصْنَامِ، فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا

Larangan Memperjualbelikan Minuman Memabukkan

Larangan Memperjualbelikan Minuman Memabukkan

Khamr atau minuman memabukkan haram untuk diperjualbelikan. Banyak riwayat yang menjelaskan haramnya jual-beli khamr, diantaranya sbb: dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'ahuma, ia berkata: لَمَّا نَزَلَتْ آيَاتُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ عَنْ آخِرِهَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ حُرِّمَتِ التِّجَارَةُ فِي الْخَمْرِ. “Tatkala turun ayat-ayat

Antara Gharar Dengan Maysir

Antara Gharar Dengan Maysir

Gharar adalah diantara bentuk maysir, karena maysir terbagi menjadi dua jenis: Maysir yang diharamkan karena mengandung unsur qimar Permainan yang diharamkan sekalipun tidak disertai pembayaran utang, juga termasuk maysir. Sebagian ulama salaf, ketika ditanya tentang maysir, ia menjawab, "segala bentuk permainan yang melalaikan dari shalat dan dzikrullah termasuk maysir." Pendapat ini

Definisi Gharar

Definisi Gharar

Gharar berasal dari bahasa arab yang berarti risiko, tipuan, dan menjatuhkan diri atau harta ke jurang kebinasaan. Gharar juga bisa diartikan sebagai ketidakpastian (uncertainty). Menurut istilah para ahli fiqh, gharar berarti jual beli yang tidak jelas kesudahannya. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan jual-beli yang konsekuensinya antara ada dan tidak. Misalnya: