Menuju Puasa Penuh Makna
23rd June 2016

Menuju Puasa Penuh Makna

Terkadang kita dapati orang yang berpuasa tetapi masih lalai dan mengerjakan hal-hal yang dapat merusak puasanya atau bahkan dapat membatalkan pahala puasa atau paling tidaknya dapat mengurangi pahala puasa seukuran pelanggaran yang dilakukannya, dalam kondisi seorang yang melakukannya tidak menyadarinya. Ini tentu suatu hal yang patut diwaspadai. Hal ini dikarenakan puasa bukan sekedar menahan dari lapar dan dahaga atau dari pembatal yang lain, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:


لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ

Bukanlah puasa itu sekedar menahan dari makan dan minum”. [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

Maksudnya puasa itu seharusnya menahan lebih dari itu, ada hal-hal lain yang ia harus menahan diri darinya sebagai bagian dari ibadah puasanya. Puasa yang sebenarnya adalah puasanya anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa. Puasanya perut dari minum dan makan, maka sebagaimana makanan dan minuman itu akan memutus puasa dan merusaknya, demikian pula perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukan oleh anggota badan lainnya seperti mata, lisan, dan telinga, maka akan memutus pula pahalanya dan merusak buahnya. Sehingga pada akhirnya menjadikan orang yang berpuasa seperti yang tidak puasa dengan telah rusaknya sebagian kecil atau bahkan sebagaian besar pahala puasanya.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menerangkan:

Seorang yang berpuasa adalah orang yang anggota badanya berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa, lisannya berpuasa dari kata dusta, kata keji, dan ucapan palsu, perutnya berpuasa dari makanan dan minuman, kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Bila dia berbicara, tidak berbicara dengan sesuatu yang merusak puasanya, bila berbuat, tidak berbuat dengan suatu perbuatan yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya keluar dalam keadaan baik dan manfaat.

Demikian pula amalannya, amalannya bagai bau harum yang dicium oleh seorang yang berteman dengan pembawa minyak wangi misk, semacam itu pula orang yang berteman dengan orang yang berpuasa, ia mendapatkan manfaat dengan bermajlis (duduk) bersamanya, aman dari kepalsuan, kedustaan, kejahatan dan kezhalimannya.


Inilah puasa yang disyariatkan, bukan sekedar menahan dari makan dan minum, terdapat dalam hadits yang shahih:


من لم يَدَعْ قوَْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ و الجهل فلََيْسَ حَاجَةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya”. [Shahih, HR Al-Bukhari]

Dalam hadits yang lain:

وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُْوعُ والعطش

Bisa jadi seorang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”. [Shahih, HR Ibnu Hibban:8/257]

Ibnu Qudamah mengelompokkan orang yang berpuasa menjadi tiga golongan:

  1. Puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.
  2. Puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan -perbuatan dosa.
  3. Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya kalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan kalbu dari selain Allah secara total.

Demikian yang terjadi pada pengamalan manusia terhadap ibadah puasa ini, tentu semestinya semua orang, baik yang awam atau yang berilmu agar menjadikan puasanya ini pada tingkatan yang tertinggi. Dan disinilah lahan untuk berpacu bagi semua orang yang berjalan menuju Allah dalam ibadah ini, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk berlomba-lomba dalam meraih yang terbaik.


Selanjutnya untuk menuju puasa yang terbaik sebagaimana dikehendaki Allah, maka tentu kita perlu meruju kepada bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pengamalan ibadah ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kepada kita rambu-rambu untuk kita berhati-hati dari beberapa hal sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits berikut ini:


من لم يَدَعْ قوَْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ و الجهل فلََيْسَ حَاجَةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya”. [Shahih, HR Al Bukhari]


عَنْ أَبيِ هُرَيرَْةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ ا صلى لله عليه وسلم إِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ فقََطْ إِنمََّا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغُوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فقَُلْ إِنيِّ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu (ucapan sia-sia) dan rafats (ucapan kotor), maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, lihat kitab Shahih Targhib]


عَنْ أَبيِ هُرَيرَْةَ رضي لله عنه يقول قال رسول ا صلى لله عليه وسلم قال لله وإذا كان يوَْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فلا يرَْفُثْ ولا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أو قَاتلََهُ فلَْيقَُلْ إني امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman : …maka bila pada hari puasanya seseorang di antara kalian janganlah ia melakukan rafats dan janganlah ia yashkhab (berteriak, ribut), bila seseorang mencacimu atau mengganggumu maka katakanlah: ‘Saya ini orang yang sedang berpuasa…’.” [Shahih, HR Al-Bukhari]


عَنْ أَبيِ هُرَيرَْةَ عَنِ النَّبيِِّ صلى لله عليه وسلم قَالَ لا تَسَابَّ وَأَنْتَ صَائِمٌ وَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ فقَُلْ إِنيِّ صَائِمٌ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ

Dari Abu Hurairah dari Nabi ia bersabda: “Janganlah kamu saling mancaci (bertengkar mulut) sementara kamu sedang berpuasa maka bila seseorang mencacimu katakan saja: ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah: 3/241, Nasa’i dalam Sunan Kubra: 2/241 Ibnul Ja’d: 1/411, tanpa kalimat terakhir. Imam Ahmad dalam Musnad:2/505 dan Ath-Thayalisi dalam Musnad:1/312. Lihat Shahih Targhib]


Dari hadits-hadits di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pembatal pahala puasa atau yang akan menguranginya adalah sebagai berikut:

  1. Qauluz-zur yakni ucapan dusta dan mengamalkan perbuatan yang merupakan tindak lanjut atau konsekuensi dari ucapan dusta
  2. Rafats yakni kata yang diidentikkan dengan makna bersetubuh, dan terkadang dengan makna, ‘kata-kata yang keji dan kotor’ dan terkadang bermakna ‘pembicaraan seorang lelaki dan perempuan seputar hubungan sex’, dan banyak dari ulama mengatakan: ‘yang dimaksud dengan kata rafats dalam hadits ini adalah ‘kata kotor keji dan jelek’.
  3. Laghwu yakni ucapan yang tidak punya nilai atau manfaat dan –wallahu a’lam- mencakup juga amalan yang tidak ada manfaatnya.
  4. Shakhab yakni bersuara keras dan ribut dikarenakan pertikaian, termasuk pula bertengkar mulu.

Demikian beberapa hal yang mesti dijauhi saat seseorang sedang berpuasa agar pahalanya tidak berkurang atau batal, disamping menjauhi hal-hal yang akan membatalkan puasanya. Dan diantara yang akan mensucikan puasa seseorang dari Laghwu dan rafats diatas adalah ia menunaikan zakat fitrah, sebagaimana tersebut dalam hadits:


عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ للهُ عَنهُْمَا قَالَ فرََضَ رَسُولُ للهِ صلى لله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً للِصَّياَمِ مِنَ اللّْغْوِوَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِْ مَنْ أَدَّاهَا قبَْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بعَْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata:
Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi puasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberian makan untuk orang-orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (iedul Fitri) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu adalah sebagai sedekah dari sedekah-sedekah yang ada
[HR Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dan beliau mengatakan: Shahih sesuai syarat Al-Bukhari namun Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya]


Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam…


@ IMS - 9/1437H