Pesona Masjid Raya Darussalam Palangkaraya Berornamen Suku Dayak
09th May 2018

Pesona Masjid Raya Darussalam Palangkaraya Berornamen Suku Dayak

Kota Palangkaraya, Kalimatan Tengah yang dijuluki oleh masyarakat sebagai Bumi Pancasila tidak hanya memiliki daya tarik kekayaan bumi yang melimpah, tetapi juga bangunan-bangunan yang memiliki arsitektur khas daerah untuk menjaga identitas lokal.

Hampir seluruh bangunan lembaga pemerintahan, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain di Kalimantan Tengah berwujud rumah adat dayak, lengkap dengan ornamen pedang dan perisai Suku Dayak. Tak terkecuali bangunan rumah ibadah, baik gereja maupun masjid tetap melekatkan ornamen-ornamen Suku Dayak tersebut.

NU Online melakukan perjalanan selama tiga hari, Jumat-Ahad (4-6/5) di Palangkaraya. Sepanjang perjalanan dari Bandar Udara Tjilik Riwut ke arah Kota Palangkaraya, tepatnya di Jalan G. Obos Palangkaraya, terdapat sebuah mesjid yang cukup megah dengan gaya arsitektur yang khas, Masjid Raya Darussalam.

Sekilas corak dan warna kubah sama seperti Masjid Hubbul Wathan di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang menjadi bangunan Islamic Center. Tetapi, Masjid Raya Darussalam yang memiliki kubah berdiameter 32 meter ini mempunyai keunikan dengan balutan ornamen Suku Dayak, di antaranya penyematan perisai Suku Dayak di setiap pojok bangunan masjid.

Identitas khas daerah sebagai kebijaksanaan lokal (local wisdom) tidak ditinggalkan warga beragama di Kalimantan Tengah untuk mewujudkan keberagaman bangsa Indonesia. Tradisi dan budaya lokal merupakan sebuah keharmonisan, bukan persoalan yang perlu dibenturkan apalagi dipertentangkan.

Keselarasan ini diakui oleh salah seorang warga Palangkaraya bernama Mahfudin. Masyarakat Palangkaraya berjalan sesuai aturan bersama, baik yang ditetapkan pemerintah maupun aturan yang sejak dulu berlaku di tengah masyarakat. Di antaranya persoalan keyakinan dan identitas lokal.

Tetapi, Mahfudin sebagai salah satu pemuka agama di Palangkaraya tidak memungkiri, benturan antar-keyakinan bisa saja terjadi mengingat masyarakat saat ini yang mudah terprovokasi berbagai informasi. Dia yang juga aktif di Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) tetap menjaga kerukunan dengan melakukan kegiatan bersama pemeluk dan pemuka agama lain di Palangkaraya.

“Kami sering melakukan kegiatan diskusi bersama-sama untuk saling berangkulan menjaga kebersamaan,” ujar Mahfudin dalam kesempatan bincang dengan NU Online.

Masjid Raya Darussalam yang merupakan salah satu bangunan masjid termegah di Kalimantan Tengah secara tidak langsung turut menjaga kebersamaan dan keberagaman dengan tetap melekatkan identitas lokal. Identitas lokal Suku Dayak adalah milik semua, sehingga masjid yang berdiri atas lahan lebih kurang 5.000 meter persegi ini bisa menjadi destinasi wisata bagi siapa pun, bukan hanya umat Islam.

Masjid Raya Darussalam yang berlokasi tidak jauh dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangkaraya ini diresmikan pada era Gubernur Agustin Terasnarang pada 2014 lalu. Selain kubah utama, pada Masjid Raya Darussalam juga dibangun empat kubah lain berkonstruksi serupa dengan ukuran lebih kecil. Lima kubah ini menyimbolkan rukun Islam.

Masjid yang juga berdampingan dengan Asrama Haji Palangkaraya ini dibangun tiga lantai yang terdiri dari lantai 1 untuk fasilitas kantor pengelola dan ruangan-ruangan khusus dengan luas 1.017 meter persegi.

Adapun lantai 2 dan 3 diperuntukkan ruang shalat utama masjid dengan luas 2.028 meter persegi. Luas total masjid untuk dua lantai 3.358,5 meter persegi dengan kapasitas kurang lebih 5.000 jemaah.

Halaman masjid itu bisa dipakai untuk shalat seluas 3.442,5 meter persegi, dengan kapasitas kurang lebih 15.000 jamaah. Jadi kapasitas total masjid ini mencapai 20.000 jamaah. Kapasitas parkir mobil 72 unit dan untuk motor 300 unit serta di sekitarnya juga tersedia ruang terbuka. Kemegahan masjid ini semakin maksimal dengan bangunan menara masjid setinggi 114 meter.

Masjid Raya Darussalam juga diproyeksikan menjadi pusat pengembangan Islam. Sebab itu dirancang memiliki fasilitas gedung serbaguna, perpustakaan, lembaga pendidikan, dan lain-lain. Khusus untuk lembaga pendidikan, saat ini Masjid Raya Darussalam telah menyelenggarakan pendidikan di berbagai jenjang di antaranya SMP Islam Darussalam. Lembaga pendidikan memiliki gedung tersendiri tapi masih di dalam area masjid.

NU Online berkesempatan ikut shalat berjamaah ketika waktu maghrib datang. Sebelum adzan tiba, seperti biasa masjid memutar rekaman qiro Al-Qur’an. Adzan merdu yang mengalun luas membuat masyarakat berbondong-bondong ke masjid.

Merdunya bacaan Al-Qur’an oleh imam shalat menambah kekhusyuan shalat jamaah. Usai shalat berjamaah, imam memimpin wirid dan dzikir shalat seperti tradisi pada umumnya. Lalu, setelah doa selesai, jamaah bersalam-salaman sembari menggemakan shalawat. (Fathoni)


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/90112/pesona-masjid-raya-darussalam-palangkaraya-berornamen-suku-dayak