Jasa Orang Jawa dalam Geliat Islam di Kaledonia Baru
13th April 2018

Jasa Orang Jawa dalam Geliat Islam di Kaledonia Baru

Muslim Kaledonia Baru sangat aktif promosikan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanpa perlu gembar-gembor, Kaledonia Baru rupanya tak per nah sepi dari ke giatan dakwah Islam. Upaya untuk mengokohkan dan mengembangkan Islam itu dila kukan oleh sejumlah organisasi Islam, utamanya dari ne gara-negara Arab dan Malaysia. Mereka sangat aktif melakukan promosi Isl am ke wilayah ini.

Dari upaya yang mereka lakukan, Muslim di Kaledonia Baru kini tak hanya berasal dari kaum imigran, tetapi juga dari masyarakat lokal. Banyaknya masyarakat lokal yang beralih keyakinan menjadi Muslim salah satunya disebabkan oleh mudahnya proses perpindahan agama menjadi Islam. Tak dikenakan bayaran ataupun diminta melakukan ibadah tertentu yang tidak masuk akal.

Muslim di Kaledonia Ba ru diwadahi oleh New Cale donia Muslim Association (Asso ciation des Musulmans de Nouvelle Caledonie). Lembaga ini dibangun pada 1975 dan merupakan lembaga Muslim pertama yang dibangun di wila yah ini. Umat Islam di Kaledonia Baru juga termasuk dalam komunitas Muslim di wilayah Pasifik bersama Kepulauan Fiji, Papua Nugini, Solomon, Vanuatu, dan Pulau Palau.

Organisasi-organisasi Islam dunia juga secara aktif menyumbangkan dana untuk penyebaran Islam di Kaledonia Baru meskipun sebenarnya wilayah itu tidak miskin. Perekonomian Kaledonia Ba ru mengandalkan tam bang ni kel, bantuan dari Pemerintah Prancis, serta industri pari wi sata yang menjadikan pen ­dapatan per ka pita wilayah ini sebesar 35 ribu dolar AS pada 2008 atau masuk dalam perekonomian maju di daerah Samudra Pasifik.

Jamaah Tabligh dari Aus tralia juga aktif berdak wah ke kepulauan ini. Saat ini, Ja maah Tabligh Aus tralia me mang tak hanya meng arah kan sasaran dakwahnya ke Mel bourne, Sydney, Perth, Darwin, dan kota-kota lain di Australia, tapi juga meluas ke kepulauan Pasifik Selatan, seperti Vanuatu, Samoa, Fiji, Kaledonia Baru, bahkan juga ke Cina, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara. Kebanyakan aktivis Tabligh di Australia adalah keturunan kaum imigran. Dan, mereka akan menjadi pasukan dakwah yang ‘kuat’ secara psikologis bila dikirimkan ke negeri nenek moyangnya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Siapa yang tak pernah mendengar Suriname? Tapi, bagaimana dengan Kaledonia Baru? Nama yang disebut terakhir boleh jadi masih asing bagi sebagian orang Indonesia.

Padahal, seperti halnya Suriname, Kaledonia Baru juga cukup banyak dihuni oleh orang-orang berdarah Jawa. Tak aneh pula bila populasi Muslim di kepulauan elok yang berada di Samudra Pasifik bagian selatan ini cukup berkembang.

Meski demikian, bukan orang Jawa yang pertama kali membawa Islam ke Kaledonia Baru, melainkan orang Arab. Hal ini terjadi sekitar 100 tahun lalu pada masa penjajahan Prancis. Hingga saat inipun, Kaledonia Baru masih dimiliki Prancis. Dalam bahasa Prancis, Kaledonia Baru disebut Nouvelle-Caledonie. Ada pula yang menamainya Kanaki yang diambil dari nama penduduk asli kepulauan itu.

Lantas, bagaimana orang Jawa bisa tiba di sini? Dulu, mereka tiba di Kaledonia Baru untuk menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan yang lebih baik di negeri asing. Ketika kontrak kerja habis, kebanyakan di antara mereka pulang ke Jawa, terutama pada rentang 1930 dan 1935 setelah terjadi malaise ekonomi pada 1929. Kondisi yang sama kembali terulang antara 1948 dan 1955 dengan jumlah yang lebih besar.

Nyatanya, tak semua orang Jawa itu pu lang ke kampung halaman. Sebagian memilih tetap tinggal di Kaledonia Baru dan kemudian beranak pinak. “Para pekerja Indonesia dan keturunannya saat ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat se tempat dan juga telah memberikan sum ­bang sihnya terhadap pembangunan Kaledonia Baru,” kata Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Kaledonia Baru, Ade Sukendar. Mereka membangun komunitas Jawa dengan menjadi warga negara Kaledonia Baru.

Kini, jumlah orang Jawa ditaksir 7.000 orang dengan 2.000 orang di antaranya tetap berstatus warga negara Indonesia (WNI). Se mentara, jumlah penduduk Kaledonia Baru kini mencapai sekitar 240 ribu jiwa. Sebanyak 25 ribu di antaranya atau lima persen dari po pulasi adalah Muslim. Mayo ri tas penduduk, yakni 75 persen, ma sih me me luk agama Katolik Roma, sementara peng anut Protestan 15 persen dan animisme lima per sen.

Selain dari Jawa, umat Islam di Kaledonia Baru juga berasal dari negara-negara Mus lim, seperti Aljazair, Somalia, negara-negara Arab, dan Maroko. Muslim asal Aljazair dahulunya adalah tahanan politik yang dikirim ke Kaledonia Baru pada 1872. Umat Islam kebanyakan tinggal di bagian utara Kaledonia Baru.
Kebanyakan pendakwah asal Australia menggunakan bahasa Inggris sebagai peng antar utama. Hal ini sebenarnya sangat baik karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Sayangnya, fakta ini malah menjadi kelemahan tersendiri dalam penyampaian dakwah di Kaledonia Baru. Sebab, kebanyakan orang Kale donia Baru berbahasa Prancis, Arab, ataupun Indonesia. Ken dala bahasa ini membuat ko munitas Muslim di negeri tetangga, seperti Australia dan Fiji, kesulitan mentransfer ajaran Islam kepada saudara-saudara seiman mereka di Kaledonia Baru.


Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/18/04/13/p743h8313-jasa-orang-jawa-dalam-geliat-islam-di-kaledonia-baru