Hari ke-27 : Taubat
20th May 2016

Hari ke-27 : Taubat

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتُوبُواْ إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهاَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (Terjemahan Al Quran Surah An Nuur: 31)

يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُواْ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَـاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـاتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَـارُ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (Terjemahan Al Quran Surah At Tahrim: 8)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ، مَرَّةٍ»

Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari 100 kali.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ، مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ، إِذَا وَجَدَهَا

Allah lebih senang dengan taubatnya salah seorang di antara kalian daripada senangnya kalian menemukan kembali hewan kendaraannya yang telah hilang (ketika safar).”(HR. Muslim)

Kenapa kita harus segera bertaubat dari maksiat?

Ahli Ilmu berkata,

إِنَّ الْمَعَاصِيَ بَرِيْدُ الْكُفْرِ يَنْتَقِلُ الْإِنْسَانُ فِيْهَا مَرْحَلَةً مَرْحَلَةً حَتَّى يَزِيْغَ عَنْ دِيْنِهِ كُلِّهِ

Sesungguhnya maksiat-maksiat merupakan pengantar ke arah kekufuran, dimana seseorang mendekati (kekufuran itu) setahap-demi setahap sehingga ia melenceng dari agama secara keseluruhan.”

Syarat-syarat taubat nashuha:

  1. Dilakukan karena Allah Azza wa Jalla; yakni pendorongnya untuk bertaubat adalah cinta kepada Allah, mengagungkan-Nya, mengharap pahala-Nya, dan takut terhadap siksa-Nya.
  2. Menyesali perbuatan dosa yang dilakukannya.
  3. Berhenti dari melakukan perbuatan dosa itu segera. Jika dosanya berupa mengerjakan yang haram, maka dengan meninggalkannya pada saat itu, dan jika berupa meninggalkan kewajiban, maka dengan melakukannya pada saat itu. Jika maksiatnya terkait dengan hak orang lain, maka tidak sah taubatnya sampai ia lepas dari hak orang lain itu. Misalnya, jika ia mengambil harta orang lain, maka tidak sah taubatnya sampai mengembalikan harta itu kepada pemiliknya jika masih hidup atau Ahli warisnya, jika pemiliknya telah tiada. Jika tidak ada Ahli waris, maka dia serahkan kepada Baitul Mal. Dan jika ia tidak mengetahui siap pemiliknya, maka ia sedekahkan. Jika maksiatnya berupa mengghibahi seorang muslim, maka ia meminta dihalalkan (dimaafkan) jika orang itu mengetahui ghibahnya, atau khawatir diketahui. Jika tidak, maka dengan memohonkan ampunan kepada Allah untuknya dan memujinya dengan menyebutkan sifat-sifatnya yang terpuji di majlis tempat ia mengghibahinya.
  4. Berniat keras untuk tidak mengulanginya lagi.
  5. Bukan pada waktu yang tidak diterima lagi taubat. Yaitu:
    • ketika matahari telah terbit dari barat,
    • ketika tiba ajal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam bersabda,

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ

Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum di tenggorokan.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.”)

Jika semua syarat taubat ini dilakukan, maka taubatnya diterima meskipun dosanya besar. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يعِبَادِىَ الَّذِينَ أَسْرَفُواْ عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُواْ مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Terjemahan Al Quran Surah Az Zumar: 53)


Marwan bin Musa