Hari ke-23 : Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Yang I’tikaf dan Pembatal-Pembatal I’tikaf
20th May 2016

Hari ke-23 : Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Yang I’tikaf dan Pembatal-Pembatal I’tikaf

Tentang pengertian i’tkaf, Ibnu Rajab berkata,

قَطْعُ الْعَلاَئِقِ عَنِ الْخَلاَئِقِ لِلْإِتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ

Memutuskan hubungan dengan makhluk untuk mengabdi kepada Allah Al Khaliq.
(Latha’iful Ma’arif 1/191)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah memutuskan diri dari berhubungan dengan manusia untuk meluangkan waktu menaati Allah di salah satu masjidnya untuk mencari karunia dan pahala-Nya, serta untuk memperoleh malam Lailatul Qadr. Oleh karena itu, sepatutnya bagi orang yang i’tikaf menyibukkan diri dengan dzikr, membaca Al Qur’an, shalat, dan beribadah, serta menjauhi hal yang tidak berguna baginya berupa obrolan dunia. Namun tidak mengapa berbicara sebentar dengan pembicaraan yang mubah baik dengan keluarganya maupun selainnya karena suatu maslahat.

Hal ini berdasarkan hadits Shafiyyah radhiyallahu ‘anha ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا، فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ، فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah i’tikaf, lalu aku mendatanginya di malam hari, kemudian aku berbicara dengan Beliau, lalu aku bangun untuk pulang, kemudan Beliau bangun untuk mengantarku pulang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan bagi orang yang i’tikaf diharamkan melakukan jima’ dan melakukan pengantarnya seperti mencium dan menyentuh istri dengan syahwat. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُبَـاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَـاجِدِ

Dan janganlah kamu campuri mereka, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.”
(Terjemahan Al Quran Surah Al Baqarah: 187)

Adapun keluar dari masjid, jika hanya sebagian badannya, maka tidak mengapa berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeluarkan kepalanya kepadaku (dari masjid) saat i’tikaf, lalu aku basuh rambutnya, sedangkan aku dalam keadaan haidh.”
(HR. Bukhari, dalam sebuah riwayat, Aisyah juga menyisirnya).

Jika ia keluarkan semua badannya (keluar dari masjid), maka dalam hal ini ada tiga macam:

Pertama, keluar untuk hal yang memang harus dilakukan secara tabiat maupun syara’, misalnya buang air, berwudhu karena batal, mandi karena mimpi basah, makan dan minum karena tidak ada yang mengantarkan, maka boleh.

Kedua, keluar karena suatu ketaatan, namun tidak wajib baginya, misalnya menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, dsb. Maka ia jangan lakukan, kecuali jika pada awal i’tikafnya ia mensyaratkan demikian karena ia mempunyai seorang yang sedang sakit yang ia ingin jenguk, maka tidak mengapa.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

اَلسُّنَّةُ عَلَى اَلْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا, وَلَا يَشْهَدَ جِنَازَةً, وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً, وَلَا يُبَاشِرَهَا, وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ, إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ, وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ

Sunnahnya bagi seorang yang beri’tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh istri, tidak memeluknya, dan tidak keluar (dari masjid) kecuali karena suatu keperluan yang mendesak, dan tidak ada I’tikaf jika tidak berpuasa serta tidak ada I’tikaf kecuali di masjid Jami’.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Ketiga, keluar untuk sesuatu yang malah menafikan i’tikaf, seperti untuk jual-beli, menggauli istrinya, dsb. Maka jangan ia lakukan, baik sebelumnya mensyaratkan maupun tidak, karena hal itu membatalkan i’tikaf dan menafikan tujuan i’tikaf.”
(Majalis Syahri Ramadhan, Majlis ke-21)

Bagi yang beri’tikaf juga diperbolehkan menyiapkan tenda kecil di belakang masjid untuk i’tkafnya, karena Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menyiapkan tenda untuk i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hal itu atas perintah Beliau shallallahu ‘alahi wa salllam
(Sebagaimana dalam Shahih Muslim 1173).

Ia juga diperbolehkan meletakkan kasur ringan di masjid. Hal ini sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika i’tikaf disiapkan kasur di belakang tiang At Taubah
(HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Ali Hasan dalam Shifat Shaumin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 94).


Marwan bin Musa