Hari ke-26 : Zakat Fitri
20th May 2016

Hari ke-26 : Zakat Fitri

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri 1 sha’ kurma atau 1 sha’ sya’ir dari budak, orang merdeka, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Dan Beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum manusia keluar (menuju tempat) shalat.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

«فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fitri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari laghwu (hal sia-sia) dan rafats (kata-kata kotor), dan sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat yang diterima, sedangkan barang siapa yang mengeluarkan setelah shalat, maka itu hanyalah sedekah di antara sedekah-sedekah.
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni, dan dihasankan oleh Al Albani).

Yang wajib dalam Zakat Fitri adalah satu sha’ (1 Sha’ = kira-kira 2,04 kg atau 2040 gram) gandum, sya’ir, kurma, zabib (kismis), aqith (susu kering), beras, jagung, atau makanan pokok lainnya.

Namun sebagian Ahli Ilmu berkata, “Dari segala jenis makanan memang 1 sha’ selain bur (gandum), maka dianggap sah hanya ½ sha’. Ini adalah pendapat Sufyan, Ibnul Mubarak, dan penduduk Kufah.”

Tetapi jika lebih dari satu sha’, maka tidak mengapa sebagaimana dijelaskan dalam Fatawa Lajnah Da’imah (Komite Fatwa KSA) no. 9386 ketika ada seorang yang bertanya demikian, Lajnah menjawab,

“Zakat fitri adalah satu sha’ dari gandum, kurma atau beras dan makanan pokok lainnya pada negeri setempat dari seseorang, baik laki-laki maupun wanita, anak-anak atau orang dewasa, dan tidak mengapa mengeluarkan lebih dalam zakat fitri sebagaimana yang anda lakukan dengan niat sedekah meskipun anda tidak beritahukan kepada orang fakir itu.”

Sebagian ulama menyimpulkan, bahwa pengeluaran Zakat Fitri ada waktu fadhilah (utama) dan ada waktu jawaz (boleh). Waktu utama adalah ketika terbit Fajar Idul Fitri sebelum pelaksanaan shalat Ied. Sedangkan waktu bolehnya adalah sehari atau dua hari sebelum Idul Fitri.

Zakat Fitri diberikan sebagaimana zakat-zakat yang lain diberikan (8 asnaf di surat At Taubah: 60), hanya saja kaum fakir dan miskin lebih didahulukan dalam Zakat Fitri daripada asnaf yang lain berdasarkan hadits Ibnu Abbas, “Wa thu’matan lil masakin” (artinya: dan sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin).


Marwan bin Musa