Berkumpul Bersama Keluarga di Surga
13th April 2016

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Kebahagiaan terbesar yang diharapkan sekali oleh seorang hamba adalah ketika ia dapat berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya - terutama keluarganya - di surga; dengan ibu dan ayahnya, dengan istri dan anaknya, dengan saudara dan kawannya setelah sebelumnya berpisah.

Saudaraku, kita dapat berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai apabila kita dengan mereka sama-sama di atas keimanan atau di atas Islam. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(Terjemahan Al Quran Surah Ath Thuur: 21)

Tetapi, jika kita dengan mereka berbeda akidahnya; kita di atas Islam, sedangkan mereka tidak di atas Islam, maka sesungguhnya kita tidak akan berkumpul lagi dengan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Nabi dan Rasul-Nya Nuh ‘alaihissalam, saat ia melihat anaknya yang akan tenggelam, ia mengajak anaknya naik ke kapal dan beriman kepadanya, namun anaknya menolak, lalu Nuh ‘alaihissalam berkata,
Ya Rabbi, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."
(Terjemahan Al Quran Surah Huud: 45), Kemudian Allah Ta'ala berfirman,

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu. Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berilmu."
(Terjemahan Al Quran Surah Huud: 46)

Perhatikanlah!

  • Allah Subhaanahu wa Ta’ala memisahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan anaknya, karena anaknya berada di atas kekafiran, sedangkan Nabi Nuh ‘alaihissalam berada di atas keimanan.
  • Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga memisahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan istrinya karena kekafiran istrinya (Terjemahan Al Quran Surah At Tahrim: 10),
  • Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga memisahkan Nabi Luth ‘alaihissalam dengan istrinya karena kekafiran istrinya (Terjemahan Al Quran Surah At Tahrim: 10),
  • Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga memisahkan Asiyah ‘alaihassalam dengan suaminya, yaitu Fir’aun karena kekafiran suaminya (Terjemahan Al Quran Surah At Tahrim: 10)
  • Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga memisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan ayahnya, yaitu Azar (Terjemahan Al Quran Surah At Taubah: 114).

Oleh karena itu, jika kita ingin berkumpul kembali bersama keluarga, maka jagalah keimanan kita dan keluarga kita; jangan sampai kita biarkan mereka memilih agama selain Islam. Demikian pula jika kita ingin keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai tidak tersentuh api neraka, maka ajarkanlah mereka ilmu agama dan jangan biarkan mereka di atas kemaksiatan. Jangan biarkan mereka meninggalkan shalat, jangan biarkan istri dan puteri kita melepas jilbab, jangan biarkan mereka meninggalkan puasa Ramadhan, dan jangan biarkan mereka berakhlak tercela serta melakukan berbagai kemaksiatan. Ketahuilah! Mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan adalah tanda engkau mencintai dan sayang kepada mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
(Terjemahan Al Quran Surah At Tahrim: 6)

Saudaraku, ketahuilah! Jika engkau tidak memperhatikan masalah ini, maka engkau akan berpisah dengan orang-orang yang engkau cintai; dengan ayah dan ibumu, dengan istri dan anak-anakmu, dengan saudara dan kawan-kawanmu sekalipun engkau akrab dengan mereka ketika di dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
(Terjemahan Al Quran Surah Az Zukhruf: 67)

Ketahuilah wahai saudaraku! Orang-orang yang engkau jadikan teman akrabmu sewaktu di dunia, jika mereka tidak di atas keimanan dan amal saleh, kelak akan menjadi musuhmu, bahkan jika mereka biasa mengajakmu mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, lalu engkau mengikutinya, maka engkau akan menyesal berteman dengan mereka, dan engkau akan melaknat mereka habis-habisan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan orang yang salah mengambil teman; ia mengambil teman orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً-- يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً-- لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Wahai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"--Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).--Sesungguhnya Dia telah menyesatkanku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.
(Terjemahan Al Quran Surah Al Furqaan: 27-29)

قَالَ ادْخُلُواْ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّن الْجِنِّ وَالإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعاً قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأُولاَهُمْ رَبَّنَا هَـؤُلاء أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَاباً ضِعْفاً مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَـكِن لاَّ تَعْلَمُونَ-- وَقَالَتْ أُولاَهُمْ لأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terlebih dahulu, "Wahai Tuhan Kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Allah berfirman, "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui".--Dan berkata orang-orang yang masuk lebih dulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas Kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan".
(Terjemahan Al Quran Surah . Al A’raaf: 37-39)

Saudaraku, berpisah dengan orang-orang yang dicintai adalah penderitaan yang besar. Tidak mengaa berpisah dengan mereka beberapa lama –karena kita pasti akan berpisah-, namun yang penting adalah kita dapat berkumpul lagi dengan mereka di surga dan caranya telah diterangkan kepadamu. Malaikat Jibril ‘alaihissalam pernah berkata kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ» ثُمَّ قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

"Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, namun engkau akan mati. Cintailah sesukamu, namun engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, namun kamu akan diberi balasan." Selanjutkan malaikat Jibril berkata, "Wahai Muhammad, kelebihan orang mukmin itu pada Qiyamullailnya, dan kemuliaannya ketika tidak butuh kepada manusia."
(HR. Asy Syirazi dalam Al Alqaab, Hakim, Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Sahl bin Sa’ad, Baihaqi dalam Asy Syu’ab pula dari Jabir, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari Ali, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 73).

Semoga Allah Memberikan Taufiq dan Hidayah NYA kepada kita semua untuk dapat berkumpul kembali bersama keluarga dan orang-orang terdeka di surga kelak.


Marwan bin Musa