Hari ke-20 : Keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Sepuluh Terakhir Bulan Ramadhan
20th May 2016

Hari ke-20 : Keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Sepuluh Terakhir Bulan Ramadhan

Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ»

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh (terakhir bulan Ramadhan), maka Beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa apabila bulan Ramadhan hampir selesai, maka hendaknya seseorang mempergiat beribadah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun berbeda dengan keadaan di zaman sekarang, dimana ketika bulan Ramadhan hampir habis, maka ibadah yang dilakukan semakin berkurang dan mengendor. Kita dapat melihat, masjid-masjid yang sebelumnya (di awal Ramadhan) ramai, namun di akhir-akhirnya semakin kurang ramai, bahkan hanya terdiri dari beberapa shaf saja.

Kata-kata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh (terakhir bulan Ramadhan)," menunjukkan keutamaan sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu, di antara ulama ada yang menafsirkan ayat 2 surat Al Fajr "wa layaalin 'asyr" (artinya: dan malam yang sepuluh) maksudnya adalah sepuluh terakhir bulan Ramadhan, karena di dalamnya terdapat malam Lailatul qadr.

Kata-kata, "mengencangkan ikat pinggangnya," maksudnya bersiap-siap untuk fokus beribadah dan sungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Ada pula yang berpendapat, bahwa kalimat tersebut merupakan kinayah (kiasan) tentang menjauhi wanita dan tidak berjima'. Imam Al Qurthubiy berkata, "Beliau menjauhi wanita dengan beri'tikaf." Ada pula yang berpendapat, bahwa kalimat "mengencangkan ikat pinggangnya" mengandung makna hakiki dan majazi, sehingga maksudnya tidak melepas ikat pinggangnya, menjauhi wanita dan semangat untuk beribadah.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ : كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf selama sepuluh hari pada setiap bulan Ramadhan. Namun pada tahun di mana Beliau akan wafat, Beliau melakukannya selama dua puluh hari."
(HR. Bukhari no. 2044)

Kata-kata, "menghidupkan malamnya," maksudnya banyak bergadang untuk ketataan, yaitu dengan melakukan qiyamullail, membaca Al Qur'an, berdzikr, memuhasabah dirinya, berdoa, dsb.

Kata-kata, "membangunkan keluarganya," maksudnya mengingatkan dan mendorong mereka untuk beribadah atau shalat malam. Imam Tirmidzi dan Muhammad bin Nasr Al Marwaziy meriwayatkan dari hadits Ummu Salamah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika bulan Ramadhan tinggal sepuluh hari, maka tidak membiarkan satu pun dari keluarganya yang sanggup melakukan qiyamullail kecuali membangungkannya.

Faedah:

Mungkin timbul pertanyaan, "Bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membangunkan keluarganya sedangkan Beliau dalam keadaan beri'tikaf di masjid?"

Jawab: Mungkin saja Beliau membangunkan istrinya yang ikut i'tikaf di masjid, atau mungkin Beliau membangunkannya dari masjid karena berdampingannya rumah Beliau dengan masjid, atau mungkin saja Beliau keluar dari masjid tempat I'tikafnya ke rumahnya untuk suatu keperluan sambil membangunkan keluarganya (Lihat Fathul Bariy oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al 'Asqalani).


Marwan bin Musa