Kala Jawab tak Kunjung Tiba
11th August 2016

Kala Jawab tak Kunjung Tiba

Bagi kebanyakan manusia, masa penantian adalah masa yang sangat panjang untuk dilalui,
Satu pekan laksana satu bulan kan dirasakan,
Satu purnama laksana satu tahun,
ooo.. begitu lamanya pengharapan.

Terlebih lagi bagi seorang pemuda yang baru saja menyampaikan lamarannya kepada wali dari wanita impiannya, pastinya berharap kan segera mendapatkan jawaban.. jawaban penerimaan tentunya.. namun jika jawaban belum kunjung didapatkan, berilah hiburan ke dalam hati, sekurang-kurangnya Anda adalah seorang pemberani dan punya kesungguhan.. ya sesungguhnya Anda telah berani menghadapi risiko belum diterima sebagaimana Anda telah berani menerima segala tangggung jawab sebagai kepala rumah tangga kelak, jika lamaran Anda diterima.

Semoga lamaran yang telah diajukan sebagai bentuk kesungguhan, kesungguhan dalam berikhtiyar menjalankan sunnah pernikahan dan sifat bersungguh-sungguh sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang potongan haditsnya sebagai berikut:

.....

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا.

وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“.... Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila ada sesuatu yang menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku melakukannya niscaya akan begini dan begitu.’Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang Dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ‘seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.”
(HR. Muslim, no. 6945)

Pada Hadits ini Rasulullah memberikan petunjuk agar, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”. Inil adalah wasiat Rasulullah kepada umatnya, yaitu bersungguh-sungguh dalam mencari dan mendapatkan manfaat.

Pemuda yang shalih tentunya akan berpikir jernih dan menerima wasiat Nabi ini, maka mereka bersungguh-sungguh dalam mencari hal yang bermanfaat bagi dirinya termasuk di dalamnya bersungguh-sungguh untuk melangsungkan pernikahan. Sedangkan kebanyakan pemuda, umumnya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, bahkan mengandung bahaya bagi diri dan agama mereka. Oleh karena itu layak untuk dikatakan pada mereka, “Kalian tidak melaksanakan wasiat Nabi, mungkin karena kebodohan atau karena meremehkannya”, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mewasiatkan umatnya agar setelah kesungguhan, hendaklah memohon pertolongan kepada Allah. Memohon pertolongan kepada Allah dalam segala hal bahkan dalam hal yang mudah, sangat bermanfaat untuk mengikis dan menghilangkan sikap ujub, dan juga dalam rangka menjalankan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sebagaimana beliau bersabda,


لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ حَتَّى يَسْأَلَهُ الْمِلْحَ وَحَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Hendaklah salah seorang dari kalian senantiasa meminta kebutuhannya kepada Tuhan, sampaipun ketika meminta garam, sampaipun meminta tali sandalnya ketika putus.
(HR. at-Tirmidzi, no. 3604).

Jika kesungguhan usaha dan memohon pertolongan Allah telah dilaksanakan, seorang pemuda dalam masa penantian jawaban lamarannya, hendaknya tidak menjadikan dirinya dalam kegalauan, ingatlah wasiat Rasulullah, “dan jangan bersikap lemah.” Maka ia akan terus beraktifitas seperti hari-hari sebelum ia mengajukan lamaran dan bahkan menjadikannya lebih giat dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Ketika akhirnya sampai jawaban nan bertolak belakang dengan harapan, seorang pemuda yang shalih tidak akan larut dalam kesedihan dan juga tidak akan menyesalinya, dan juga tidak akan mengatakan "seandainya dulu aku tidak melamar", karena ia akan selalu mengingat dan mengamalkan sabda Rasulullah dalam hadits di atas, “Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku melakukannya niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’”

ya karena pada akhirnya, apapun yang terjadi semuanya adalah atas kehendak Allah 'Azza wa Jalla dan di luar kehendak manusia, kita hanya melaksanakan apa yang diperintahkan, Allahlah yang berkuasa terhadap segala urusan. Allah berfirman, yang artinya, Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21).

Ketika Allah menakdirkan sesuatu, pasti ada hikmah yang mengiringinya baik diketahui ataupun tidak. Allah berfirman, yang artinya, Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Insan: 30).

Semoga bermanfaat


@ IMS - 8 Dzul Qa'dah 1437H