Masjid Dibakar, Mestikah Dibalas dengan Jihad Perang?
13th April 2016

Masjid Dibakar, Mestikah Dibalas dengan Jihad Perang?

Wajar memang umat Islam tersulut emosi ketika ada di antara masjid dari kaum muslimin yang dibakar, misalnya. Namun apakah mesti menyuarakan jihad untuk membalas pembakaran tersebut?

Tidak Selamanya Islam Membalas dengan Jihad

Memang betul tegaknya Islam adalah dengan dakwah ilmu dan jihad. Namun apa yang didahulukan oleh Allah ketika menyebutkan dakwah dan jihad? Coba perhatikan ayat berikut,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hadid: 25)

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (28: 263) menyatakan bahwa agama ini bisa tegak dengan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab, lalu mengajarkan manusia mengenai kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama. Jika dakwah dengan cara pertama tadi gagal, maka beralih pada jihad dengan pedang. Oleh karenanya, tegaknya agama Islam ini adalah dengan kitab dan dengan pedang.

Coba lihat apa yang diterangkan oleh Ibnu Taimiyah, jihad dengan senjata barulah ada setelah didakwahi lewat juru dakwah dengan menjelaskan Al-Kitab (Al-Qur’an). Sedangkan sekarang, kita saksikan orang begitu tidak sabar, pokoknya jihad dan angkat senjata. Tak perlu ada kelemahlembutan di awal. Ternyata, tidak seperti itu dakwah Islam. Sungguh beda sikap antara yang berilmu dan yang hanya bermodalkan semangat namun kosong ilmu.

Penjelasan yang sama dengan Ibnu Taimiyah diterangkan oleh Ibnu Katsir. Dalam kitab tafsir beliau, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (7: 188) disebutkan, “Jihad dengan pedang itu ada ketika ada yang menolak kebenaran setelah ada penjelasan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di Makkah setelah diangkat menjadi Nabi selama 13 tahun. Ketika itu beliau diturunkan surat-surat Makkiyah, yang notabene berisi perdebatan dengan orang musyrik, penjelasan untuk metauhidkan Allah dan dalil-dalilnya. Ketika telah ada penjelasan bagi yang menyelisihi, barulah disyari’atkan hijrah, lau diperintahkan untuk berjihad dengan senjata untuk memerangi orang-orang mendustakan dan menentang Al-Qur’an.”

Lihat juga penjelasan Ibnu Katsir, kapan jihad itu ada? Jawabnya, jihad baru ada setelah adanya dakwah dengan ilmu. Berarti untuk memadamkan api, bukanlah dengan api jihad. Namun dengan ilmu, kesabaran dan kelemahlembutan terlebih dahulu.

Dan ingat, jihad itu bukan sembarangan kita lakukan. Jihad yang wajib tentu diawali dengan ilmu dan perintah dari pemerintah yang punya kuasa, bukan setiap Ormas angkat senjata.

Ingat, api tidak mungkin dipadamkan dengan api.

Lalu dengan apa?

Tentu dengan sesuatu yang bisa memadamkan yaitu air.

Baca artikel Rumaysho.Com:

Balaslah Kejelekan dengan Kelemahlembutan dan Kesabaran

Kalau kita ingin membalas, memang bisa. Namun membalas dengan kesabaran dan kelemahlembutan itu lebih baik. Buahnya, dakwah Islam akan semakin diterima.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ 35

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

‘Ali bin Abi Thalhah berkata bahwa sahabat yang mulia, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 530)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 529)

Tugas kita, bersabar terhadap cobaan. Biarkanlah aparat yang berwenang yang mengurus dan menindak pelakunya. Tugas kita perbanyak do’a pada saudara kita yang tertindas dan bantulah kesusahan mereka dengan rezeki yang kita miliki. Selama masih bisa menempuh jalan damai, lemah lembut dan sesuai prosedur, tempuhlah jalan tersebut.

Hanya Allah yang memberi taufik.


Nasihat dari seorang muslim yang pernah tumbuh besar di tanah Papua (16 tahun, 1986-2002): Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com