Pemberi Nasihat Terbesar & Pencegah Maksiyat Teragung
06th November 2017

Pemberi Nasihat Terbesar & Pencegah Maksiyat Teragung

Para ulama telah sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah menurunkan ‘pemberi nasihat’ yang paling besar dan ‘pencegah’ yang palng agung dari langit menuju bumi dari nasihat muroqobah (pengawasan dan ilmu). Yaitu bahwa manusia selalu memperhatikan bahwa penguasa-Nya selalu mengawasinya, mengetahui semua yang dia sembunyikan dan yang dia tampakkan.

Para ulama membuat perumpamaan untuk ‘pemberi nasihat’ yang paling besar dan ‘pencegah’ yang paling agung tersebut dengan gambaran yang menjadikan perkara yang dipahami dengan akal itu seperti perkara yang dapat dilihat.

Mereka mengatakan, “Seandainya kita umpamakan seorang raja yang sangat banyak menumpahkan darah, sangat banyak membunuh orang, sangat besar kekuatan dan hukimannya, algojonya berdiri tegak di hadapannya, tikar kulit (untuk tempat darah) telah dihamparkan, pedangnya masih meneteskan darah, dan di sekitar raja tersebut terdapat putri-putri dan istri-istrinya. Apakah terbetik di dalam fikiran ada seseorang di antara hadirin berkeinginan melakukan perbuatan yang meragukan atau perbuatan yang meragukan atau perbuatan yang haram terhadap putri-putri dan istri-istri raja tersebut?

Tidak, sama sekali tidak! Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat yang paling sempurna. Bahkan semua hadirin takut, hati mereka patuh, pandangan mereka tunduk, dan anggota badan mereka tenang. Puncak harapan mereka adalah keselamatan.

Dan tidak ada keraguan –sedangkan allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat yang paling sempurna- bahwa allah Jalla wa ‘Alaa lebih besar pengawasan-Nya dan lebih luas ilmu-Nya daripada raja tersebut.

Dan tidak ada keraguan bahwa Allah jalla wa ‘Alaa lebih besar hukuman-Nya, lebih besar kekuatan-Nya, dan lebih mengerikan siksaan-Nya. Sedangkan larangan Allah adalah perkara-perkara yang Dia haramkan.

Seandainya penduduk suatu kota mengetahui bahwa pemimpin kotanya (gubernur atau bupati) mengetahui semua yang mereka lakukan di malam hari, mereka pasti melewati malam mereka dengan rasa takut dan meninggalkan seluruh kemungkaran Karena takut kepada pemimpin tersebut.

Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Alaa telah menjelaskan bahwa hikmah penciptaan makhluk adalah untuk menguji mereka.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al-Kahfi (18):7)

Dan Allah Jalla wa ‘Alaa juga berfirman di awal surat Hud:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (QS. Hud (11): 7)

Allah Jalla wa ‘Alaa tidak berfirman: “Siapakah di antara kamu yang lebih banyak amalnya.”

Allah Jalla wa ‘Alaa juga berfirman di dalam surah al-mulk:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk (67): 2)

Kedua ayat di atas menjelaskan maksud dari firman allah Jalla wa ‘Alaa :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan mtentang jalananusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-dzariyyat (51): 56)

Dan karena hikmah penciptaan makhluk adalah ujian yang telah disebtkan di atas, malaikat jibril ‘alaihi salaam berkehendak menjelaskan kepada manusia tentang jalan keselamatan di dalam ujian tersebut. Maka Jibril berkata kepada Nabi ﷺ :

“Beritahukan kepadaku tentang ihsan?”

Inikah hikmah penciptaan makhluk sebagai ujian di dalam ihsan (melakukan malan yang paling baik). Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jalan ihsan adalah ‘pemberi nasihat yang paling besar dan pencegah yang paling agung’ yang telah disebutkan. Nabi ﷺ bersabda:

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

[Muttafaq ‘alaihi dari hadits abu Hurairah; HR. Bukhari, Kirab: Al-Iman, Bab:Pertanyaan Jibril Kepada nabi ﷺ tentang iman, Juz 1 hlm. 18, (no.50 dan 4777, -pent); dan Muslim,kitab: Al- iman,Juz 1 hlm.39, no. 9; riwayat muslim dari hadist sahabat umar bin khaththab, kitab: Al-Iman, Juz 1, hlm. 36, no. 8]

Oleh karena itu Anda tidak membuka lembaran kertas dari mushhaf kecuali anda mendapati pemberi nasihat yang agung ini di dalamnya. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman :

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهٖ نَفۡسُهٗ ۖۚ وَنَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ الۡوَرِيۡدِ

اِذۡ يَتَلَقَّى الۡمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الۡيَمِيۡنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيۡدٌ‏ 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan yang lain di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qhaf (50): 16-18)

dan Juga Firman-Nya :

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ

Artinya: Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (kami) mengetahui (keadaan mereka), dan kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).

(QS. Al-A’raaf (7): 7).

Dan firman-Nya:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَلا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus (10): 61)

Dan firman-Nya

أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Artinya: Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Hud (11): 5)


disadur dari buku "Islam Agama Sempurna", karya syaikh muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syanqithi