Pendeknya Khutbah Jumat dan Panjangnya Shalat Jumat
18th April 2017

Pendeknya Khutbah Jumat dan Panjangnya Shalat Jumat

Diriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu anhu, beliau berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ.

Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah merupakan ciri dari kefaqihan seseorang.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, makna ungkapan hadits di atas bahwa hal tersebut merupakan ciri bahwa seseorang itu mengerti agama.

مَئِنَّةٌ maknanya adalah ciri bagi sesuatu, dan alasan kenapa pendeknya khutbah menjadi tanda kefaqihan seseorang adalah karena seorang fakih selalu meneliti hakikat sebuah masalah yang dibingkai di dalam kalimat yang singkat dan mudah difahami, sehingga memungkinkannya mengungkapkan masalah dengan bahasa yang sangat kuat dan penuh dengan makna, karena itu kelanjutan riwayat hadits ini adalah:

فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا.

Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, sesungguhnya di antara untaian kata yang indah itu ada daya penarik (bagaikan sihir).”

Yang dimaksud dengan memanjangkan shalat adalah dengan batasan tidak masuk ke dalam kategori yang dilarang, dan pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Jum’at dengan hanya membaca surat al-Jumu’ah dan al-Munaafiquun, juga sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan dari an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anuhma:

كَـانَ رَسُـولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِـي الْعِيدَيْنِ وَفِـي الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam shalat ‘Id (dua hari raya) dan Jum’at biasa membaca surat al-A’laa dan al-Ghaasyiyah.” [HR. Muslim dan Abu Dawud]

Dan dengan membaca keduanya hal itu termasuk ke dalam kategori shalat yang panjang yang tidak dilarang.

Diriwayatkan dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin an-Nu’man Radhiyalllahu amhuma, beliau berkata:

مَا أَخَذْتُ (ق. وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) إِلاَّ عَنْ لِسَانِ رَسُـولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ.

Aku mempelajari surat Qaaf wal Qur-aanil Majiid hanya dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu beliau bacakan pada hari Jum’at di atas mimbar ketika berkhutbah di hadapan manusia.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Hadits ini menunjukkan bahwa membaca satu surat atau sebagiannya merupakan hal yang masyru’ di dalam setiap khutbah Jum’at, dan sikap beliau yang selalu menjaga surat ini merupakan pilihan beliau, karena kandungan nasihat di dalamnya yang sangat baik, hadits ini juga menunjukkan bahwa nasihat tersebut disampaikan secara berulang-ulang.