Penjelasan Singkat Rukun Islam
03rd February 2016

Penjelasan Singkat Rukun Islam

1. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah

Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah maksudnya mengikrarkan/menyatakan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja. Hal ini mengharuskan dia meniadakan sesembahan selain-Nya dan menetapkan bahwa semua ibadah hanya ditujukan kepada Allah Subhaaahu wa Ta'ala saja.

Oleh karena itu, dia tidak boleh menyembah atau mengarahkan ibadah kepada selain Allah, dia tidak boleh ruku’ dan sujud kepada selain Allah, dia tidak boleh berdoa kepada selain Allah, dia tidak boleh bertawakkal kepada selain Allah, dia tidak boleh meminta pertolongan (dalam hal yang tidak disanggupi makhluk) kepada selain Allah, dia tidak boleh berharap kepada selain Allah, dia tidak boleh berkurban/menyembelih untuk selain Allah dan mengarahkan ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala.

Bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Allah maksudnya kita tidak boleh bersikap ifrath (berlebih-lebihan terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam); kita tidak boleh menempatkan Beliau melebihi penempatan Allah terhadap Beliau, yaitu sebagai “hamba-Nya”, sehingga kita tidak menjadikan Beliau sebagai tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa putra Maryam, kita tidak boleh berdoa kepada Beliau, meminta kepada Beliau, ruku’-sujud kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dsb, karena Beliau adalah hamba (manusia seperti halnya kita). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan maksud bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah kita meyakini dan mengakui bahwa Beliau adalah orang yang diutus Allah kepada manusia semuanya untuk mengajak mereka kepada-Nya sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Di dalam persaksian ini terdapat larangan bersikap tafrith (meremehkan) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita adalah menaati perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

Syahadat ini dianggap satu rukun meskipun yang ia saksikan tidak satu perkara saja, bisa karena Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang menyampaikan dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya termasuk kesempurnaan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, bisa juga karena kedua syahadat itu merupakan dasar sah dan diterimanya sebuah amal, karena tidaklah sah dan diterima sebuah amal kecuali dengan ikhlas karena Allah Ta'ala dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka dari itu, dengan ikhlas terwujud persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terwujud persaksian bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Di antara manfaat dari persaksian yang agung ini adalah membebaskan hati dan jiwa dari perbudakan kepada makhluk, dan dari mengikuti selain para rasul.

2. Mendirikan Shalat

Shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Shalat adalah ibadah yang paling utama dan paling dicintai Allah Ta'ala. Ia merupakan tiang utama bangunan Islam setelah syahadat, dimana jika seseorang meninggalkannya, maka bangunan agama dalam diri seseorang akan segera roboh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat, dan puncaknya adalah berjihad." (HR. Tirmidzi, ia berkata, "Hasan shahih,")

Mendirikan shalat tidaklah sekedar mengerjakan shalat atau menunaikannya, tetapi menghendaki seseorang untuk mendirikan shalat baik zhahir(luar)nya maupun batin(dalam)nya. Zhahirnya adalah dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya, dan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Sedangkan batinnya adalah dengan melakukan khusyu' di dalamnya.

Di antara hikmah shalat adalah sebagai bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla, menjalin hubungan baik antara hamba dengan Tuhannya, membuat manusia ingat kepada Tuhannya, membuat dada menjadi lapang, pandangan mata menjadi sejuk, dan terhindar dari perbuatan keji dan munkar, mendapat bimbingan Allah dalam hidup, dan lain-lain.

3. Menunaikan Zakat

Zakat adalah beribadah kepada Allah Ta'ala dengan mengorbankan harta yang terkena zakat dalam ukuran tertentu.

Dalam zakat terdapat bentuk ihsan kepada orang lain, sedangkan dalam shalat terdapat bentuk ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu, hubungan seseorang menjadi baik dengan Allah Ta'ala ketika ia mendirikan shalat, dan hubungannya dengan manusia menjadi baik dengan menunaikan zakat.

Di antara hikmah zakat adalah menyucikan jiwa dari akhlak rendah (bakhil dan kikir), membersihkan hartanya dan agar diberi keberkahan, menutup kebutuhan kaum muslim, mewujudkan kerukunan antara orang kaya dengan orang miskin, menegakkan maslahat umat, dan lain-lain.

4. Berpuasa Ramadhan

Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga tenggelam matahari.

Di antara hikmah berpuasa Ramadhan adalah membiasakan jiwa meninggalkan hal-hal yang disukainya karena mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla, merasakan penderitaan kaum fakir-miskin sehingga ia mudah bersedekah, melatih seseorang untuk bersabar dan mengendalikan diri, dan lain-lain.

5. Berhaji Ke Baitullah

Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menuju ke Baitullah untuk menegakkan syiar-syiar haji.

Di antara hikmah berhaji adalah melatih jiwa mengorbankan harta dan badan dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu, haji termasuk bagian jihad fii sabilillah. Hikmah lainnya adalah mempertemukan kaum muslim dari berbagai penjuru di tempat yang paling dicintai Allah, tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, menyatukan mereka, dan lain-lain.


Marwan Hadidi
Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.45, Software Al Bahits (Indeks ayat Al Qur’an), Untaian Mutiara Hadits (Penulis), dll.