Sejarah pergantian nama Kota Yatsrib menjadi Madinah
22nd February 2018

Sejarah pergantian nama Kota Yatsrib menjadi Madinah

(Arrahmah.com) – Madinah dalam bahasa Arab artinya adalah kota. Maka jika kita menyebutnya Kota Madinah, maka sebenarya artinya menjadi Kota Kota.

Kota ini sebenarnya memang tidak memiliki nama. Maka para ulama menyebutnya sebagai Madinah An-Nabawiyah (kotanya Nabi) atau Madinah al-Munawarah (kota yang bercahaya).

Madinah sebelumnya disebut Yatsrib. Para ulama menyebutkan Yatsrib sebenarnya adalah nama orang yang pertama kali membuka kota itu dan menghuninya.

Tetapi masalahnya Yatsrib sendiri berasal dari bahasa Arab: Tatsrib. Dalam Al-Quran ada kata Tatsrib berada di surah Yusuf. Dan para ulama mengatakan Nabi ﷺ tidak suka penamaan kota dengan kata Yatsrib.


قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖيَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Salah satu makna kata Tatsrib kesalahan atau dosa. Jadi perubahan nama Tatsrib itu merupakan perubahan dari kegelapan menuju cahaya. Dari masa jahiliyah menuju peradaban Islam. Itu bukan sekedar perubahan nama.

Sisi menarik dari sejarahnya, kota Yatsrib adalah kota yang “tidak siap”. Tidak seperti Mekkah, atau Thaif, yang di beberapa sisi jauh lebih baik dari pada Yatsrib.

Allah memberikan kota kepada Nabi ﷺ sebuah kota yang tidak siap. Supaya apa? Supaya kita sebagai umatnya tidak mudah menyerah.

Apa hubunganya menyerah dengan Yatsrib? Supaya kita mengambil pelajaran ketika melihat perjuangan Nabi ﷺ memperbaiki kota Yatsrib, sampai berubah menjadi thayyibah, sampai menjadi pusat peradaban bumi, itu benar-benar melibatkan perjuangan Rasul ﷺ dan perjuangan para sahabat.

Yatsrib sebelumnya sangat tidak siap untuk menjadi pusat peradaban, tetapi akhirnya Rasulullah ﷺ berhasil mengubahnya menjadi pusat peradaban dunia.


Sumber: Kajian Madinah Kota Peradaban oleh Ustadz Budi Ashari, Lc.

(fath/arrahmah.com)