Meninggalkan Suap-Menyuap Karena Allah - Pintu Rizki Jadi Terbuka
10th January 2018

Meninggalkan Suap-Menyuap Karena Allah - Pintu Rizki Jadi Terbuka

Ada seorang kawan bercerita tentang seseorang pedagang di Arab Saudi pada awal meniti karir dalam bisnis. Dia bercerita bahwa dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini dan semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya. Dia selalu mengawasi orang-orang yang main suap-menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang sulap. Maka dengan tanpa rasa malu lagi, atasannya menasihati teman kami ini agar tidak terlalu keras dan mau menerima uang yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.

Setelah mendengar perkataan tersebut, dia gemetar dan merasa takut. Ia lalu keluar dari kantornya, sementara kesedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadany, “Ini adalah hadiah dari perusahaan kami.” Yang satu lagi bilang, “Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah anda yang baik.” Dan dia selalu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi sampai kapan kondisi ini akan tetap berlangsung ?!

Dia khawatir suatu waktu mentalnya akan melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut, dia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah dan mau menerima suap. Karena hatinya masih berada di atas fitrah dan meresapi firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. ( Qs. Ath-Thalaq: 2-3 )

Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Teman kami ini berkata, “Kemudian Allah mengaruniaiku sebuah kapal kargo yang kecil. Aku pun mulai bisnis, mengangkut barang-barang. Lalu Allah mengaruniaiku kapal kargo lain lagi.

Beberapa pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka karena (mereka melihat) kesungguhanku dalam mengangkut barang-barang, seolah barang-barang itu milikku sendiri.

Di antara kejadian yang aku alami adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah, karena sang nahkoda tertidur. Dia meminta maaf dan aku memaafkannya. Maka merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut karena aku begitu mudah memaafkan orang. Dia bersikeras untuk berkenalan denganku. Setelah berlangsung beberapa tahun, pangkat polisi itu bertambah tinggi. Saat itu barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar-menawar lagi.”

Saudaraku, pembaca (yang budiman), lihatlah, bagaimana pintu-pintu rizki terbuka untuknya, Sekarang dia telah menjadi saudagar besar. Kepedulian sosial dan santunannya bagi orang-orang miskin begitu besar. Demikianlah, barangsiapa yang meninggalkan suatu perbuatan (yang haram) karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.


[Disadur dari buku Kisah-Kisah Nyata - Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi'in, Orang-Orang Dahulu dan Sekarang, Darul Haq, 2015]