Seluruh Nabi Diperintahkan Untuk Mendirikan Shalat
22nd November 2017

Seluruh Nabi Diperintahkan Untuk Mendirikan Shalat

Dalam syariat Islam shalat merupakan ibadah yang agung. Diantara hal yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah Allah mewajibkan shalat kepada seluruh Nabi alaihimush shalatu was salam. Allah 'Azza wa Jalla juga memberitahukan kepada mereka mengenai keagungannya.

Hal ditunjukkan dari banyaknya ayat dalam al Quran yang mengisahkan tentang ibadah shalat seluruh nabi sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Allah Ta'ala menyebutkan nabi-nabi seorang demi seorang nabi, maka Allah Ta'ala mengisahkan mereka dalam firman-Nya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: 58)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan jika mereka (para nabi) mendengarkan Kalamullah yang mengandung berbagai hujjah, fakta dan bukti-bukti (kekuasaan)-Nya, niscaya mereka sujud kepada Rabb mereka dengan penuh tunduk dan merendahkan diri sambil memuji dan bersyukur terhadap nikmat-nikmat agung yang diberikan kepada mereka.

dan firman Allah pada ayat berikutnya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa setelah Allah menceritakan tentang golongan orang-orang yang beruntung, yaitu para Nabi dan para pengikut mereka yang menegakkan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah, serta menunaikan fardhu-fardhu ketentuan Allah, lagi meningalkan berbagai ancaman-Nya;

Allah menyebutkan bahwa akan datang sesudah mereka satu generasi yaitu generasi (kurun) lain yang menyia-nyiakan shalat, dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka kewajiban-kewajiban lain pasti lebih diremehkan. Hal ini karena shalat adalah tiang agama dan sebaik-baik amal seorang hamba. Kemudian mereka pasti akan menuruti kesenangan dan kelezatan dunia, serta senang dengan kehidupan dunia, mereka merasa tenteram di dalamnya. Mereka itu akan ditimpa “ghayya,” yaitu kerugian pada hari Kiamat.

Kemudian para ulama berbeda pendapapat apakah yang dimaksud menyia-nyiakan shalat adalah meninggalkan shalat atau menyia-nyiakan waktunya.

Dari nash di atas diambil pelajaran bahwa syariat shalat telah ada pada seluruh nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi was Salam, akan tetapi detil dari syariat shalat tersebut tidak diketahui karena tidak adanya dalil yang memberikan gambaran rincinya.

Ketika syaikh Ibnu Baz ditanya tentang bentuk shalat para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Beliau menjawab:
Allah lebih tahu dengan shalat Para Nabi itu. Kita diperintahkan melaksanakan shalat dalam bentuk yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka kita wajib melaksanakan shalat sebagaimana shalatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي


Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melaksanakan shalat.
[HR. Bukhari. no. 631. Majmu' Fatawa Ibnu Baz 29/237 no.155]

Mari kita sibukkan diri dengan mempelajari syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sebab inilah hal yang terpenting dan utama. Setiap Muslim wajib mempelajari syariat Islam yang penting dalam kehidupannya masing-masing, seperti tauhid, shalat, zakat, puasa haji dan lain-lain.

Allahu A'lam.


@dmin, 3 Rabi'ul Awwal 1439H
[diadaptasi dari buku ta'zhimush shalat hal 9-13, Syaikh 'Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, 1434H]