Bejaia, Pusat Kajian Matematika
04th April 2018

Bejaia, Pusat Kajian Matematika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah kalangan mengenal Bejaia, seperti kota lainnya di Afrika Utara, yaitu Fez dan Marrakech, sebagai pusat kajian matematika. Salah satu pakar matematika ternama di kota itu adalah Al Qurash. Ia berasal dari Sevilla, Spanyol, yang tinggal dan meninggal di Bejaia pada 1184. Al Qurash memiliki kepandaian khusus di bidang aljabar. Ia menuliskan sebuah karya aljabar yang merupakan komentar atas karya yang ditulis oleh pakar mate matika dari Mesir, Abu Kamil, yang meninggal dunia pada 930 Masehi.

Karya Al Qurash ini memang tak banyak diketahui. Namun, sejarawan Ibn Khaldun mengungkapkan pentingnya karya tersebut. Khaldun bahkan menegaskan bahwa itu merupakan salah satu karya terbaik terkait komentar terhadap karya Abu Kamil. Kalangan cendekiawan menyatakan bahwa ini merupakan komentar berbobot. Sebab, Khaldun selain dikenal sebagai sejarawan juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika. Khaldun menyebut pula bahwa tulisan Al Qurash itu merupakan karya yang paling terkenal pada masanya.

Pada masa selanjutnya, karya Al Qurash ini dipelajari dan diajarkan di wilayah Maghrib hingga abad ke-14 oleh Ibn Zakariya. Beberapa dekade kemudian, karya ini menjadi rujukan bagi Ibn al Banna dalam menulis karya terkenalnya, Kitab al-Usous wal Muqaddim fil Jabr. Serangkaian komentar bermunculan atas kepiawaian Al Qurash ini. Al Qurash dianggap te lah mampu mengenalkan metodemetode baru dalam bidang yang dikuasainya, yaitu aljabar. Terutama, pembahasan mengenai turunan.

Metode yang Al Qurash gunakan secara cepat mendapatkan pengakuan dari para sejawatnya. Banyak pakar matematika di zamannya kemudian menggunakan metode yang ia gunakan untuk membuat buku-buku teks sebagai bahan pengajaran matematika kepada murid-muridnya. Pembelajaran matematika di Bejaia juga menyentuh cendekiawan dari sejumlah wilayah yang menjalin kerja sama dagang dengan Bejaia. Di antaranya adalah Leonardo Fibonnaci. Ayahnya Leonardo sebelumnya bertanggung jawab atas pembukuan perdagangan para pedagang Pisa.

Selama di Bejaia, ia mengakui perkembangan kajian matematika sangat pesat. Lalu, Leonardo Fibonnaci dikirimkan ke sejumlah guru matematika di Bejaia untuk mendalami matematika. Hal ini juga diakui Leonardo Fibonnaci dalam karya terkenalnya, Libber Abbaci. Leonardo Fibonnaci mengatakan, setelah ayahnya ditunjuk sebagai pegawai pembukuan dan bertugas di Bejaia, dirinya dikirim ke sejumlah guru untuk belajar matematika.


Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/18/04/04/p6nlgt313-bejaia-pusat-kajian-matematika