Raja Habasyah - Najasyi Terpukau Mendengarkan Penjelasan Ja'far tentang Islam
29th April 2016

Raja Habasyah - Najasyi Terpukau Mendengarkan Penjelasan Ja'far tentang Islam

Masyarakat kafir Quraisy melihat semakin banyak orang yang mengikuti ajaran Islam yang didakwahkan Rasulullah. Melihat fenomena ini, mereka tidak rela dan tidak tinggal diam begitu saja. Mereka mencari cara agar “Dakwah” ini berhenti dan orang-orang yang mengikutinya meninggalkan. Mulailah mereka menyerang da’inya yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, selanjutnya para pengikutnya yaitu para sahabat. Di antara cara yang mereka tempuh adalah dengan menindas para pengikutnya dengan berbagai bentuk penyiksaan dan penindasan.

Saat penindasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap para sahabat semakin menjadi, turunlah surat Al Kahfi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di surat tersebut terdapat tiga kisah; kisah As-habul Kahfi, kisah Khidhr bersama Nabi Musa ‘alaihis salam dan kisah Dzul Qarnain.

Dalam kisah As-habul Kahfi terdapat petunjuk bagi para sahabat agar mereka berhijrah dari negeri yang dilarang beribadah kepada Allah menunju negeri yang aman menjalankan ibadah, yaitu pada ayat:

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka serta apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (terjemahan Quran Surah Al Kahfi:16)


Hijrahnya para sahabat ke Habasyah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya telah mengetahui bahwa raja Habasyah “As-hamah An Najasyi” adalah raja yang adil; ia tidak suka menzalimi seseorang. Maka Beliau menyuruh para sahabat untuk hijrah ke Habasyah; menyelamatkan agama mereka. Hijrah pertama terdiri dari enam belas orang; dua belas laki-laki dan empat wanita. Dan hijrah kedua terdiri dari delapan puluh lebih laki-laki dan belasan wanita. Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap tinggal di Makkah berdakwah kepada orang-orang musyrik.

Hijrahnya para sahabat ke Habasyah membuat orang-orang musyrik jengkel. Mereka pun mengirimkan dua orang utusan, yaitu ‘Amr bin Aash dan Abdullah bin Abi Rabii’ah –saat mereka berdua masih kafir- dengan membawa hadiah untuk diberikan kepada Raja Habasyah dan pemuka-pemukannya yang terdiri dari para uskup.

Setelah utusan orang-orang musyrik menghadap ke raja Najasyi, mulailah keduanya berbicara sbb:

“Baginda raja! Ada beberapa orang yang kurang akalnya pergi berlindung ke negeri anda, mereka tinggalkan agama kaumnya dan tidak mau memeluk agama anda. Mereka datang membawa agama baru yang mereka ada-adakan, kami maupun anda tidak mengenalnya. Pemuka-pemuka kaum mereka yang terdiri dari bapak, paman dan keluarga mereka telah mengutus kami agar anda mengembalikan orang-orang itu kepada mereka; mereka adalah orang-orang yang lebih dalam memandang (masalah) dan lebih mengetahui apa yang mendorong orang-orang tersebut mencela dan memaki mereka.”

“Benar sekali, Wahai baginda raja! Serahkanlah saja mereka kepadanya, agar mereka mengembalikan ke kaumnya dan negerinya,” jawab para uskup.

Akan tetapi Raja Najasyi tidak gampang percaya dengan kata-kata mereka tanpa terlebih dahulu meneliti. Ia pun mengirim utusan untuk memanggil orang muslim dan mengundangnya.

Kaum muslim yang berhijrah pun datang menghadiri undangan tersebut. Ketika itu juru bicaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Berikut ini dialognya:

Raja Najasyi berkata, “Apa sebenarnya agama yang menyebabkan kamu meninggalkan (agama) kaum kamu, tidak mau masuk ke dalam agamaku dan tidak juga ke dalam agama yang lain di antara beberapa agama?”

Ja’far menjawab,

“Wahai baginda, dahulu kami orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, mengerjakan perbuatan keji, memutuskan tali silaturrahim, berbuat jahat kepada tetangga dan orang yang kuat di antara kami menindas yang lemah, dahulu kami seperti ini. Lalu Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami, kami mengenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya dan kesucian dirinya.

Dia menyeru kami untuk beribadah kepada Allah; agar kami mengesakan-Nya dan menyembah (hanya) kepada-Nya. (Dia menyuruh kami) meninggalkan sesembahan yang selama ini kami dan nenek moyang kami menyembahnya berupa batu dan berhala. Dia menyuruh kami berkata-kata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan menghindarkan diri dari perbuatan haram serta menumpahkan darah.

Demikian juga melarang kami mengerjakan perbuatan keji, berkata dusta, memakan harta anak yatim, menuduh berzina wanita yang baik-baik. Dia menyuruh kami beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, juga menyuruh kami mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa…dst (Ja’far menyebutkan sebagian ajaran Islam yang lain). Maka kami membenarkannya, mengimaninya dan mengikuti apa yang dibawanya berupa agama Allah. Kami pun beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kami mengharamkan yang diharamkan kepada kami dan menghalalkan yang dihalalkan kepada kami.

Namun kaum kami malah memusuhi kami, mereka menghukum kami, menyiksa kami agar kami keluar dari agama kami kembali menyembah berhala selain Allah Ta’ala, juga agar kami menghalalkan kembali perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kami halalkan. Ketika mereka menindas kami, menzalimi kami dan mempersempit ruang gerak kami serta menghalangi kami menjalankan agama kami. Kami pun berhijrah ke negeri Anda, memilih Anda daripada yang lain, kami lebih senang berdampingan dengan Anda, serta kami berharap agar kami tidak dizalimi di hadapan Anda wahai baginda.”

Raja Najasyi berkata, “Apakah kamu hapal sedikit wahyu yang dibawanya dari sisi Allah?”

“Ya.” Jawab Ja’far.

“Kalau begitu bacakanlah kepadaku!” pinta Raja Najasyi

Maka Ja’far membacakan kepadanya surat Maryam.

Ketika mendengarnya Raja Najasyi pun menangis, sampai membasahi janggutnya.

Demikian pula para uskup, mereka menangis sampai membasahi kitab-kitab mereka.

Setelah itu raja Najasyi berkata, “Sesungguhnya kata-kata ini dengan yang dibawa Isa benar-benar keluar dari sumber yang sama.”

Lalu Raja Najasyi mengatakan kepada ‘Amr bin ‘Aash dan Abdullah bin Abi Rabii’ah, “Pergilah kamu berdua! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kamu berdua selama-lamanya.”

Demikianlah dialog antara raja Najasyi dengan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Ja’far bin Abi Thaalib, dan nantinya raja Najasyi pun masuk Islam setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan surat kepadanya; mengajaknya memeluk Islam.


Marwan bin Musa