Larangan bagi wanita haidh dan nifas
15th January 2016

Larangan bagi wanita haidh dan nifas

Ada beberapa hal yang dilarang bagi wanita haidh dan nifas, yaitu:

  1. Menjima’inya (lihat surat Al Baqarah: 222). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

"Perbuatlah segala sesuatu selain nikah (jima’).” (HR. Muslim)

  1. Mentalaknya, sampai ia suci dan sebelum digauli (dijima’i). (lihat surat Ath Thalaq: 1). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda kepada Umar ketika anaknya yaitu Abdullah mentalak istrinya ketika haidh, “Perintahkanlah kepadanya untuk merujuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Melakukan shalat. Hal ini beradasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy, ia berkata:

فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Apabila haid datang, hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haid berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat." (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Berpuasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah jika salah seorang di antara kamu haidh tidak berpuasa dan tidak shalat?” Kami menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari)
  2. Thawaf. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Aisyah ketika ia haidh, “Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thawaf di Ka'bah sehingga kamu suci." (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Membaca Al Qur’an. Ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat dan tabi’in serta para ulama setelah mereka. Akan tetapi, ketika butuh membaca, seperti butuh muraja’ah hapalan agar tidak dilupakan atau butuh mengajarkan kepada anak-anak putri di sekolah, atau membaca wirid hariannya, maka tidak mengapa. Jika tidak dibutuhkan, maka hendaknya ia tidak membaca sebagaimana difatwakan oleh sebagian Ahli ilmu.
  4. Menyentuh mushaf (lihat surat Al Waqi’ah: 79)

Masuk masjid dan menetap di dalamnya. Oleh karena itu, Aisyah radhiyallahu 'anha menyisir Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di luar masjid ketika Beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid, sedangkan Aisyah berada di kamarnya yang berdampingan dengan masjid dalam keadaan haidh (lihat Shahih Bukhari no. 296). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memerintahkan kepada wanita yang haidh untuk menghadiri pelaksanaan shalat ‘Ied, tetapi mereka harus menjauhi tempat shalat. Demikian pula diharamkan bagi wanita lewat di masjid jika dikhawatirkan darahnya mengotori masjid, jika ia merasakan aman, maka tidak mengapa sekedar lewat.


Marwan bin Musa

Maraji’: Al Fiqhul Muyassar, Hadits 9 Imam (Lidwa Pusaka), Fiqhus Sunnah, Tafsir Al ’Usyril Akhir wa Yaliihi ahkaam tahummul muslim, Al Wajiz Fii Ushulil Fiqh (Dr. Abdul Karim Zaidan), dll.