Memakai Pakain Berwarna Bagi Muslimah
21st January 2016

Memakai Pakain Berwarna Bagi Muslimah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ - يَعْنِيْ لِأَنَّهُمْ مِنَ اْلهَالِكِيْنَ - : رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِياً، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا، قَدْ كَفَاهَا مُؤْونَةُ الدُّنْيَا، فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ

“Ada tiga golongan yang kamu tidak perlu tanyakan tentang mereka –yakni mereka orang-orang yang akan binasa-: (Pertama) orang yang berlepas diri dari jamaah (kaum muslimin), mendurhakai pemimpin dan meninggal dalam keadaan durhaka; (Kedua) budak wanita atau laki-laki yang lari dari tuannya lalu ia meninggal; dan (Ketiga) seorang istri yang ditinggal pergi suami, padahal sudah diberikan kecukupan ekonomi, lalu ia keluar dari rumahnya bertabarruj, kamu tidak perlu bertanya tentang mereka (HR. Hakim dan Ahmad, sanadnya shahih, Hakim mengatakan, "Sesuai syarat keduanya (Bukhari-Muslim), dan saya tidak mengetahui adanya cacat”, Adz Dzahabiy mengakuinya.)

Imam Adz Dzahabiy berkata dalam kitabnya Al Kabaa’ir, “Di antara perbuatan yang jika dilakukan wanita akan dilaknat adalah menampakkan perhiasan, emas, perak dan mutiara di bawah cadarnya, memakai misk (kesturi), ‘anbar (semacam wewangian) dan parfum lainnya ketika keluar, termasuk pula wanita memakai pakaian yang bercelupkan warna, kain sutra (untuk mempercantik dirinya), pakaian tambahan yang pendek, dengan dipanjangkan kain dan diperlebar lengan baju.

Semua itu adalah tabarruj yang dimurkai Allah dan dimurkai pelakunya di dunia dan akhirat. Karena perbuatan yang sering dilakukan wanita inilah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang mereka, “Saya melihat penghuni neraka, ternyata mayoritasnya adalah wanita.”

Termasuk sebagai perhiasan adalah pakaian yang ditenun dengan beberapa warna atau pakaian yang terdapat corak lukisan emas atau perak padanya.

Namun perlu diketahui, maksud hal ini tidaklah berarti wanita tidak boleh memakai pakaian berwarna selain hitam dan putih, karena istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum pernah memakai pakaian berwarna, di antara mereka ada yang berwarna merah, berwarna kekuning-kuningan dsb.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim An Nakha'i, 'Alqamah dan Al Aswad, bahwa mereka pernah menemui istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenakan pakaian berwarna merah. Ia (Ibnu Abi Syaibah) juga meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa ia melihat Ummu Salamah mengenakan baju kurung dengan tambahan pakaian yang dicelup usfur (tumbuhan yang mengeluarkan warna merah atau kuning).

Namun demikian, yang lebih utama berwarna hitam sebagaimana kisah Shafwan yang melihat Aisyah radhiyallahu 'anha mengenakan pakaian berwarna hitam.


Faedah:

Termasuk kesalahan dalam berpakaian adalah seorang wanita memakai rok mini yang hanya sampai pertengahan betis, lalu ditambah dengan kaus kaki panjang yang menutupi kedua betisnya yang terbuka.

Marwan bin Musa

Ahammul maraaji’: Mukhtashar jilbaabil mar’ah al muslimah ta’lif asy Syaikh Al Al Bani (DR. Hisaamuddin)