Petunjuk Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam Dalam Beribadah
21st December 2015

Petunjuk Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam Dalam Beribadah

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh para sahabatnya (termasuk kaum muslimin semuanya) dalam melaksanakan ibadah untuk bersikap I’tidal (tengah-tengah) antara sikap tasaahul/takaasul (meremehkan atau bermalas-malasan) dan tasyaddud/ghuluw (melewati aturan yang ditetapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), sebagaimana dalam Al Qur’an,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar[1], sebagaimana diperintahkan kepadamu[2] dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas[3].”

(Hud : 112)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama (Islam) mudah[4], dan tidak ada seorangpun yang hendak menyusahkan agama (Islam)[5] kecuali akan kalah, maka bersikap luruslah[6], mendekatlah[7], berbahagialah[8] dan berusahalah[9] di waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba.”

(HR. Bukhari)

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ *

“Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.”

(HR. Bukhari)


[1] Yakni tetaplah kamu berada di atas aturan Islam, jangan malas mengerjakannya atau meremehkannya.

[2] Yakni dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

[3] Yakni bersikap tasyaddud/ghuluw (melewati aturan yang ditetapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) seperti menjadikan yang sunat sebagai yang wajib (padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa itu sunat), mengharamkan beberapa hal yang dihalalkan, tidak mau mengambil rukhshah (keringanan dari Allah) dsb, atau bahkan sampai mengatakan sesat kepada orang yang tidak mau mengikutinya atau menyalahkan fahamnya. Dan tidak termasuk tasyaddud/ghuluw kalau seseorang berusaha ke arah kesempurnaan dalam mengerjakan ajaran Islam.

[4] Demikianlah agama Islam, buktinya dalam bertaubat cukup dengan berhenti dari perbuatan itu, berniyat untuk tidak mengulangi dan adanya rasa penyesalan terhadap perbuatan itu, sedangkan syari’at sebelumnya taubat itu dengan membunuh dirinya (sebagaimana yang terjadi pada bani Israil, lihatlah surat Al Baqarah: 54).

[5] Yakni menjalankan ibadah dengan sikap tasyaddud atau ghuluw.

[6] Yakni kerjakanlah ajaran Islam dengan tidak bersikap tasahul/takasul dan tasyaddud/ghuluw.

[7] Yakni jika kamu tidak dapat mengerjakan seluruh ajaran Islam, maka berusahalah mengerjakan sebagian besarnya.

[8] Yakni bahagialah dengan pahala yang Allah janjikan, dan Dia tidak pernah mengingkari janji.

[9] Yakni usahakanlah selalu mengerjakan ibadah pada saat-saat kuat mengerjakannya yaitu di waktu pagi, petang dan sebagian dari malam.


Marwan bin Musa