Riwayat Rasulullah

Tuma’ninah Dalam Shalat

Tuma’ninah Dalam Shalat

Di antara kesalahan besar yang terjadi pada sebagian orang yang shalat: tidak tuma’ninah ketika shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai pencuri yang paling buruk, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ

Takbiratul Ihram

Takbiratul Ihram

Hal ini berdasarkan hadits Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ» “Kunci shalat adalah bersuci, dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.” (HR. Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits yang paling shahih

Berdiri dalam shalat fardhu

Berdiri dalam shalat fardhu

Hukumnya wajib berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ bagi yang mampu berdiri. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al Baqarah: 238) Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu,

Membaca surat Al Fatihah

Membaca surat Al Fatihah

Membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ» “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah.” (HR. Jamaah dari Ubadah bin Ash Shamit) مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ

Sifat Shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Sifat Shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Tata Cara Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari) Atas

Ruku'

Ruku'

Tentang kewajiban ruku telah disepakati oleh para ulama. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا “Wahai orang-orang yang beriman! Ruku dan sujudlah kalian...dst.” (QS. Al Hajj: 77) Ruku terwujud dengan membungkukkan badan dengan menyentuhkan kedua tangan ke kedua lutut, dan harus dilakukan dengan thuma’ninah, karena

I'tidal

I'tidal

Bangkit dari ruku dan berdiri lurus dengan thuma’ninah Hal ini berdasarkan perkataan Abu Humaid menerangkan sifat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ “Ketika Beliau mengangkat kepalanya (dari ruku), maka badannya lurus sehingga tulang-tulang punggung kembali ke tempatnya semula.” (HR. Bukhari dan

Sujud

Sujud

Kewajiban sujud tercantum dalam Al Qur’an dan diterangkan lebih lanjut dalam As Sunnah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang keliru shalatnya, “Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan sujud dan bangkitlah hingga engkau thuma’ninah ketika duduk, lalu sujudlah hingga engkau thuma’ninah ketika sujud.” Dengan demikian, sujud pertama,

Tasyahud Akhir

Tasyahud Akhir

Duduk terakhir sambil membaca tasyahhud Demikianlah yang sudah masyhur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bahwa Beliau duduk terakhir dan membaca tasyahhud di sana. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang yang keliru shalatnya, “Jika engkau angkat kepalamu setelah sujud terakhir dan kamu duduk seukuran tasyahhud, maka telah

Salam

Salam

Kewajiban salam berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan praktek Beliau. Beliau bersabda, «مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ» “Kunci shalat adalah bersuci, awalnya takbir, dan akhirnya salam.” (HR. Ahmad, Syafi’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi dari Ali radhiyallahu ‘anhu. Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits paling