Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (12)
06th December 2017

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (12)

Warisan Para Nabi [1]

Wahai saudara-saudaraku, kaum Muslimin dan Muslimat! Setiap orang yang meninggal dunia itu memiliki warisan. Namun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewariskan atau tidak meninggalkan dirham apalagi dinar, tidak juga kambing atau unta. Para Nabi itu tidak boleh diwarisi.

Harta yang mereka tinggalkan ketika mereka meninggal dunia menjadi sedekah, bukan harta yang diwariskan. Ketika wafat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan warisan yang begitu agung. Mestinya, semua kaum Muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Tidak boleh ada seorang pun yang dihalanginya dari warisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut juga tidak boleh menghalangi jika ada orang terus ingin mendapatkan tambahan dari warisannya.

Semua kaum Muslimin berhak mengambil apapun yang mereka kehendaki dari warisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Diantara manusia, ada yang mengambilnya untuk dirinya sendiri, ada juga yang menolong orang lain untuk mendapatkannya, dengan mendukung dan menyokong sekolah-sekolah, ma’ad-ma’had dan mejelis-majelis yang mengajarkan al-haq. Itulah ilmu yang merupakan warisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah hilang sampai hari kiamat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para Ulama itu adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan sesungguhnya para Nabi itu tidak meninggalkan dinar juga tidak dirham, namun mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak

PELAJARAN PENTING

Kaum Muslimin! sesungguhnya apa yang kita bahas tadi tentang kematian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan hal yang sangat besar yang telah menimpa umat. Dan apa yang telah disampaikan dari awal sampai akhir tentang kematian Rasûlullâh adalah bersumber dari riwayat yang shahih, tidak ada satupun yang saya sampaikan dari riwayat yang dha’if apalagi palsu.

Semoga kita bisa mengambil dan memetik pelajaran dari kisah kematian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan tidak diragukan lagi, bahwa semua kejadian terkait wafatnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung pelajaran penting bagi kita. Saya sudah menyampaikannya dengan panjang lebar, karena pembahasan ini memang harus dibahas dengan panjang lebar dan tidak boleh ada rasa bosan untuk mengikutinya.

Bagaimana mungkin ada rasa bosan yang menghinggapi hati seseorang yang sedang menyimak kisah kematian orang yang sangat dicintainya yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun supaya lebih bermanfaat, saya menyebutkan beberapa pelajaran penting. Diantara pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah kematian Nabi Muhammad adalah:

  • Setiap Mukmin harus mengambil pelajaran dari kisah kematian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah khalîlullâh (kekasih Allâh), meski demikian, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengalami kematian. Jika seandainya ada orang yang berhak hidup kekal di dunia, tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diantara yang berhak untuk kekal di dunia. Akan tetapi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengalami kematian, bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kedudukannya sebagai seorang Nabi, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakaratul maut yang luar biasa.

Bagaimana mungkin kita tidak mengambil pelajaran dari kisah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?! Beliau adalah rasul termulia dan imam bagi semua orang yang bertakwa.

Setelah menyima’ dan membaca kisah ini, masih adakah orang yang menyangka atau meyakini bahwa dia tidak akan mati??? Demi Allâh! Rabbnya Ka’bah! Tidak akan ada seorang pun yang kekal hidup di dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian. [Ali Imran/3:185]

Maka, berbahagialah orang yang bisa mengambil pelajaran dari kisah ini serta sudah mulai melakukan persiapan untuk menghadapi kematian yang pasti akan mendatanginya! Dia melakukan persiapan terus-menerus sebelum terlambat, karena kedatangan malaikat pencabut nyawa tanpa didahului pemberitahuan. Betapa banyak orang yang kita cintai meninggal dihadapan kita, padahal sebelumnya dia berharap bisa mengikuti pemakaman orang tuanya. Namun takdir menetapkan lain, justru dialah yang dimakamkan oleh kedua orang tuanya.

Bahkan terkadang ada orang yang tidur seranjang dengan orang yang dicintainya dan berharap mereka menikmati udara segar bersama-sama ketika mereka bangun. Namun kenyataan berkata lain, salah seorang diantaranya, meninggal di atas kasurnya.

Ada juga orang yang meninggal dunia mendadak.

Sungguh! Wahai saudara-saudaraku! Kematian itu tidak jauh dari kita. Terkadang ada orang yang sedang berbicara, namun sebelum sempat menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba kematian datang menghampirinya, sehingga dia pun mati mendadak.

Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku! Hendaklah kita mengambil pelajaran dari semua peristiwa kematian. Jadilah orang yang cerdas. Yaitu orang yang senantiasa mengingat kematian, lalu dia berpegang teguh dengan Islam serta mengetahui sebuah hakikat bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia.

  • Pelajaran yang kedua adalah ta’ziyatul Muslimin (menghibur hati kaum Muslimin) ketika tertimpa musibah atau bisa meringan beban mereka ketika menerima musibah yang berat. Jika kita tertimpa penyakit, maka ingatlah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , khalilullah juga mengalami sakit keras. Jika kita merasa sedih karena kehilangan orang yang kita cintai, maka ingatlah kita pernah merasakan kesedihan yang tiada tara karena kehilangan orang yang paling kita cintai yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kesedihan akibat dari kehilangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berat dibandingkan rasa sedih akibat ditinggal oleh siapapun di dunia ini bahkan oleh semua orang. Dengan ini, beban kesedihan kita akan sedikit berkurang. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّمَا أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، أَوْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ، فَلْيَتَعَزَّ بِمُصِيبَتِهِ بِي عَنِ الْمُصِيبَةِ الَّتِي تُصِيبُهُ بِغَيْرِي، فَإِنَّ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِي لَنْ يُصَابَ بِمُصِيبَةٍ بَعْدِي أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ مُصِيبَتِي

Wahai manusia! Siapapun diantara manusia atau kaum Mukminin yang tertimpa musibah, maka hendaklah dia menghibur dirinya dengan musibah yang menimpanya akibat kematianku untuk menghilangkan kesedihannya akibat musibah yang menimpanya karena kematian orang selainku. Karena sesungguhnya, tidak ada seorangpun dari umatku yang akan tertimpa musibah yang lebih dahsyat daripada musibah kematianku. (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )

  • Pelajaran terpenting lainnya yaitu tentang keagungan tauhid yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dakwahkan selama hidupnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan di akhir hayatnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah seharusnya kaum Muslimin yang mendapatkan taufiq dari Allâh Azza wa Jalla. Mereka akan terus bersemangat agar tetap menjadi orang-orang yang terus mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla. Mereka akan terus mengamalkan dan mendakwahkan tauhid sampai kematian datang menjemputnya. Mereka mencintai semua orang yang mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan menjadikan dirinya sebagai bagian dari mereka. Dia senantiasa bermunajat kepada Rabbnya agar diberi keteguhan hati untuk tetap berada di atas tauhid sampai meninggal dunia.

  • Pelajaran lain yang tidak kalah penting yaitu penjelasan tentang hukum membangun masjid di atas kubur juga tentang hukum memasukkan kuburan ke dalam lingkungan masjid. Dari kisah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tahu bahwa perbuatan membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan dosa besar, bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut para pelaku perbuatan tersebut sebagai makhluk terburuk dan berhak mendapat laknat dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah mungkin ada seorang Mukmin merasa nyaman hatinya untuk melakukan apa yang dilarang oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam?? Padahal larangan tersebut Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan pada saat Beliau mengalami sakit keras, dan Beliau memberikan peringatan itu berulang-ulang, karena khawatir fitnah ini akan menimpa umatnya. Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun sebagai makhluk termulia, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikuburkan di dalam masjid. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikuburkan tempat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, yaitu di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berada di luar masjid.

Ketika Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu meluaskan masjid Nabawi, Utsman Radhiyallahu anhu tidak memasukkan kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam Masjid Nabawi. Beliau Radhiyallahu anhu memperluas masjid Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke arah semua sisi, kecuali kearah sisi kuburan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, sebagian penguasa Bani Umayyah melakukan kesalahan yang telah memasukkan kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang perlu diingat, bahwa hujjah itu bukan berada pada perbuatan seseorang, tetapi hujjah hanya ada pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim yang lebih meninggikan risalah Rasûlullâh daripada adat nenek moyangnya untuk menjauhi perbuatan ini sejauh-jauhnya.

Kemudian, jika didapati ada sebuah kuburan di dalam masjid, maka hendaklah kita perhatikan. Jika masjid itu ada sebelum kuburan, maka kita wajib menggali kuburan tersebut dan memindahkannya ke tempat pemakaman umum. Dan jika kuburan tersebut ada sebelum masjid, maka kita wajib merobohkan masjid tersebut dan membiarkan kuburan itu ditempatnya. Karena dia lebih berhak terhadap tempat itu daripada masjid yang ada setelahnya.

Sebagai pengetahuan tambahan tentang bagaimana menyikapi masjid yang ada kuburannya. Ketahuilah, jika ada masjid dan di dalamnya ada kuburan, bukan berarti semua orang boleh menghancurkan masjid tersebut dengan seenaknya. Dia harus menyampaikan hal ini kepada penguasa setempat atau disampaikan kepada para pengurus yang bertanggungjawab terhadap masjid tersebut. Sehingga mereka berkesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu agar selaras dengan syari’at yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

  • Pelajaran terakhir dari peristiwa wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin saya sampaikan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa yang mengalami sakit sebagaimana manusia lain mengalami sakit. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami kematian sebagaimana manusia yang lain mengalami kematian. Hanya saja, Allâh Azza wa Jalla telah memuliakannya dengan risalah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah manusia biasa yang tidak layak untuk disembah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul yang wajib untuk ditaati dan yang wajib untuk diikuti. Kita tidak boleh bersikap berlebihan terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun juga kita tidak boleh meremehkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kewajiban kita sebagai kaum Muslimin adalah memposisikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada posisi yang semestinya, sehingga kita tidak mencedarai tauhid yang merupakan hak Allâh Azza wa Jalla .

PENUTUP

Saya sudah menyampaikan masalah ini dengan panjang lebar, karena materi ini sangat penting. Sebenarnya, masih banyak yang ingin saya sampaikan, namun saya harus mengakhirinya karena waktu yang singkat.

Semoga bermanfaat.


[Diringkas dari majalah As-Sunnah]

___

Footnote

[1] Diangkat dari ceramah DR.Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili di masjid JIC Jakarta Utara