Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (5)
05th December 2017

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (5)

Ceramah Terakhir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [1]

Kemudian setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipandu keluar menemui para Sahabatnya dalam keadaan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diikat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa keluar dari rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma sampai ke mimbar lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Setelah memuja dan memuji Allâh Azza wa Jalla, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allâh telah memberikan pilihan kepada seorang hamba-Nya untuk memilih dunia atau memilih apa yang ada di sisi Allâh, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada pada Allâh.

Mendengar apa yang dikatakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Radhiyallahu anhu sedih, menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Wahai Rasûlullâh! Kami siap menebus engkau dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami!

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu mengatakan, “Kami tercengang dan terheran-heran dengan Abu Bakar.” Kala itu, sebagian orang mengatakan, “Lihatlah orang ini! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan tentang seorang hamba disuruh memilih oleh Allâh Azza wa Jalla antara memilih perhiasan dunia apapun yang dikehendakinya atau memilih apa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla, namun orang ini mengatakan, ‘Kami siap menebus engkau dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami!

Namun akhirnya mereka sadar bahwa hamba yang dimaksudkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah diri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, oleh karena itu Abu Bakar Radhiyallahu anhu menangis tersedu-sedu. Abu Bakar Radhiyallahu anhu sangat memahami maksud dari ucapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyaksikan tangis Abu Bakar Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ

Wahai Abu Bakar! Janganlah engkau menangis! Sesungguhnnya orang yang paling baik kepadaku dengan hartanya dan pertemanannya adalah Abu Bakar. Sekiranya aku boleh mengambil seseorang dari ummatku sebagai kekasih (teman yang paling akrab), maka tentu saya telah menjadi Abu Bakar sebagai kekasih, namun yang ada diantara kami persaudaraan Islam dan kasih sayangnya. Sesungguhnya semua pintu masjid kebaikan telah tertutup, kecuali pintu Abu Bakar Ash Shidiq.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan khutbah tersebut dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid, maka jangan kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid!

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنَّ النَّاسَ يَكْثُرُونَ وَيَقِلُّ الْأَنْصَارُ حَتَّى يَكُونُوا فِي النَّاسِ بِمَنْزِلَةِ الْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ فَمَنْ وَلِيَ مِنْكُمْ شَيْئًا يَضُرُّ فِيهِ قَوْمًا وَيَنْفَعُ فِيهِ آخَرِينَ فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاوَزْ عَنْ مُسِيئِهِمْ

Wahai manusia! Sesungguhnya manusia akan bertambah banyak namun Anshar akan semakin berkurang dan sedikit, sehingga para Anshar ini di tengah manusia ibarat garam dalam makanan. Barangsiapa diantara kalian yang diberi amanah untuk mengurusi sesuatu (menangani sesuatu sebagai pemimpin-red) yang sesuatu itu bisa mendatangkan madharat bagi sebagian kaum namun bisa mendatangkan manfaat bagi sebagian kaum yang lainnya, maka hendaklah dia menerima masukan dari orang-orang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk.

Setelah menyampaikan ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar. Itulah ceramah terakhir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbarnya dihadapan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.

Semoga Bermanfaat.


[Diringkas dari majalah As-Sunnah]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari ceramah DR.Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili di masjid JIC Jakarta Utara